Rekomendasi

Memprihatinkan, Sekaten Kraton Surakarta Tak Seperti Yang Dulu

Selasa, 20 November 2018 : 21.00
Memprihatinkan, Sekaten Kraton Surakarta Tak Seperti Yang Dulu (Foto: Sapto Nugroho/hariankota)
SOLO - Dalam tradisi budaya Kraton Surakarta Hadiningrat, tiap memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW di bulan Maulud selalu ada perayaan bernuansa Islam yang diselenggarakan di Alun-Alun Lor (Utara) berupa pasar malam yang luas dikenal dengan nama Sekaten.

Keramaian yang juga diselenggarakan di Kraton Yogyakarta ini kehadiran selalu ditunggu - tunggu masyarakat terutama mereka yang tinggal di daerah, jauh dari pusat kota. Selain stand pasar murah, juga ada pentas kesenian tradisional serta beragam wahana hiburan, dari permainan anak - anak hingga tontonan untuk remaja dan dewasa seperti Tong Setan dan Rumah Hantu.

Baik Kraton Solo maupun Yogyakarta, Sekaten adalah kegiatan pesta rakyat kecil selama satu bulan penuh setiap tahun, dan lokasinya selalu menempati Alun-Alun Utara berdekatan dengan Masjid Agung, tak jauh dari pendopo Sitinggil Komplek Kraton.

Berbeda dengan pasar malam pada umumnya. Sekaten memiliki keunikan tersendiri yang tak bisa dijumpai di pasar malam lainnya yakni, ada souvenir dan makanan khas seperti, mainan kodok-kodokan, gasing, kapal-kapalan, celengan dari gerabah tanah liat, brondong nasi, cambuk rambak, telur asin serta kinang terdiri tembakau, daun sirih beserta kapur (dalam bahasa Jawa disebut Injet).

Hanya saja, seiring berjalannya waktu, tradisi warisan ulama ini makin lama seperti kehilangan daya magnetnya. Ketertarikan generasi sekarang pada perayaan Sekaten dikalahkan oleh gempuran arus teknologi modern. Pasar malam Sekaten kesepian ditengah keramaian pengunjung mall, cafe dan tempat hiburan lainnya di Kota Solo

Keprihatinan sepinya pengunjung sekaten yang berlangsung sejak beberapa tahun terakhir, rupanya juga tak luput dari perhatian salah satu tokoh pemuda Kota Solo, sekaligus Ketua Dewan Pemerhati Penyelamat Seni dan Budaya Indonesia (DPPSBI), Bendoro Raden Mas Haryo (BRMH) Kusumo Putro.

"Ini sebuah pekerjaan rumah yang tidak ringan bagi Kraton maupun Pemkot Solo untuk dapat mengemas kegiatan Sekaten semenarik mungkin agar daya magnetnya kembali tanpa menghilangkan makna dan nuansa tradisinya," kata Kusumo saat ditemui hariankota.com di kawasan Alun - Alun Selatan, Kraton Surakarta, Selasa (20/11/2018)

Menurut pria yang mengaku memiliki darah keturunan Pangeran Diponegoro ini, aura spiritual Sekaten sekarang tak seperti yang dulu. Ia menilai, terpisahnya lokasi penyelenggaraan, antara Masjid Agung dan Alun - Alun Selatan sejak Alun Alun Utara digunakan sebagai pasar darurat Pasar Klewer juga menjadi penyebab sepinya Sekaten beberapa tahun terakhir.

"Banyak yang saat ini tidak ada di Sekaten, seperti pameran benda - benda pusaka Kraton dimana biasanya di tempatkan di Pendopo Sitinggil, atau sebelah timur Pasar Klewer. Kemudian, keberadaan penjual mainan tradisional anak - anak juga tidak sebanyak dulu lagi," ungkapnya

Kusumo khawatir, jika kondisi penyelenggaraan Sekaten dibiarkan tanpa ada pembenahan dalam penyajiannya maka ia memprediksi nasibnya akan seperti Maleman Sriwedari yang biasa diselenggarakan tiap bulan Ramadhan, dimana telah lama tak lagi di selenggarakan.

"Harus ada langkah penyelamatan agar Sekaten yang sudah menjadi ikon Kraton dan Kota Solo tidak musnah ditelan arus peradaban. Kami menghimbau agar pihak Kraton dan Pemkot Solo bisa duduk bersama, berdiskusi untuk membenahi Sekaten. Apa jadinya jika Sekaten yang sudah menjadi aset wisata ini nanti benar - benar hilang," pungkasnya.

Jurnalis: Sapto Nugroho

Editor: Rahayu

Bagikan :

Video: Sandiaga Uno Beri Sorban saat Bertemu Pendukung Jokowi

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Read More

Our Partners