Rekomendasi

Asiknya Pendestrian Pelangi di Kota Kembang Bandung

Sabtu, 08 Desember 2018 : 15.44
BANDUNG - Sebelum menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat, siera 2015, mantan wali kota Bandung Ridwan Kamil, membuat sejumlah perubahan di Kota Bandung.Pembangunan-pembangunan terus digalakan oleh lulusan Arsitek ITB ini.

Salah satu yang jadi fokus pembangunannya yakni, soal pedestarian.
Dia bersama Dinas Pekerjaan Umum, menyulap sebagian tempat, untuk menjadi kawasan pedestrian yang untuk masyarakat.

"Orang-orang sekarang malas untuk berjalan kaki. Untuk itu, kita buat sarana prasana untuk mendorong hal tersebut," ujar Kadis Pekerjaan Umum Kota Bandung Arif Prasetya.

Seperti di kawasan Dalem Kaum, dahulu kawasan ini ‎dahulu beraspal. Namun pemerintah Kota Bandung, memang sudah berniat untuk membuat kawasan pedestrian yang layak.

Saat ini, kawasan tersebut menjadi salah satu lokasi favorit warga Bandung, untuk berjalan kaki. Lantai yang dulunya aspal, kini berganti dengan menggunakan bebatuan granit.

Di samping kanan dan kiri jalan juga terdapat beberapa bangku kayu, yang semakin membuat cantik kawasan yang dulunya kumuh dan banyak kendaraan berlalu lalang.

Tak hanya kawasan Dalem Kaum, ada lagi kawasan pedestrian yang layak lainnya. Seperti di sepanjang kawasan Jalan Asia Afrika. Trotoar sepanjang jalan tersebut, kini menjadi lokasi untuk berswafoto.

Setiap malam minggu, kawasan ini tertutup untuk kendaraan umum. Bergaya khas eropa, sarana dan prasarana yang ada di kawasan tersebut, seperti ornamen bebatuan bulat, lampu-lampu kuno, menarik masyarakat untuk menelusuri sepanjang jalan Asia Afrika.

"Kalau urgensi sudah kewajiban, kita siapkan sarana prasana publik, bagaiamana mengajak ke ruang publik seperti ruang trotoar yang baik, tempat sampah, tempat duduknya, ornamen lampu dan sebagainya," jelasnya.

Namun, Arif mengatakan sampai dengan saat ini, masih banyak kawasan yang belum layak menjadi kawasan pedestrian yang ramah untuk masyarakat. Hal itu menjadi pekerjaan rumah Dinas Pekerjaan Umum, untuk kedepannya.

"Itu semua masih sebagian kecil. Masih banyak pekerjaan rumah kita (khususnya untuk pedestrian). Kita memang sudah merencakan untuk kembali membangun kawasan-kawasan pedestrian lainnya, yang mana titik-titik kawasan masyarakat berkumpul berniaga, seperti kawasan Cicadas misalnya," ungkapnya.

Sementara itu, Pengamat Tata Kota ITB Petrus Natavalian menuturkan, pembangunan pedestrian khususnya pada trotoar-trotoar jalan di Bandung pada umumnya cukup layak. Namun, untuk kata sempurna, sejumlah trotoar di Bandung masih jauh dari layak.

"Menurut saya secara umum belum maksimal. Karena tidak semua terstandarkan. Yang bagus sementara ini baru ada di kawasan Dago dan Jalan Riau.

Dari desain kita punya masalah karena difabel itu ada pemandunya yang kuning itu, tapi warna kuning tidak berujung kadang-kadang, nabrak tiang, belum lagi tinggi trotoarnya‎," kata Petrus.

Ia menuturkan, selama ini kelayakan yang gadang-gadangkan, hanya mempresentasikan bentuk fisiknya saja. Namun tidak didukung dengan sarana dan akses-akses yang memudahkan masyarakat.

"‎Kalau kita berbicara merancang trotoar atau fasilitas pedestrian, sebetulnya tidak hanya berbicara trotoar atau pedestrian secara fisik. Tapi juga berbicara konfigurasi guna lahan, konfigurasi guna lahan ini itu adalah alokasi-alokasi pusat kegiatan atau fasilitas-fasilitas," jelasnya.

‎"Kita lihat saja, kan tidak semua trotoar kualitasnya baik misalnya ada jalur yang difable, itu bisa menyemplung drainase, nabrak pohon masih banyak PR-nya dari desain dari fisik masih banyak yang harus dilakukan selain tadi yah itu hanya bicara fisiknya, belum lagi kita bicara bagaimana kita mengatur supaya kota ini lebih ramah itu yang pertama, itu juga intervensi sedemikian rupa sehingga orang itu mau berjalan kaki. Kedua berjalan kaki itu selalu nanti dikaitkan dengan moda yang lain, seperti angkutan kota bisanaya publik transportasi, itu juga harus di rancang, jadi titik-titik kegiatan, titik-titik pergantian moda itu juga harus di perhatikan. Jadi merancang trotoar itu bukan sekedar merancang fisik gitu. Makanya kita lihat ada trotoarnya bagus tapi enggak ada jalan, tapi ada trotoar yang jelek, tapi orang mau jalan," sambung dia.

Pernyataan Petrus ini, memang banyak dirasakan masyakarat, terutama masyarakat diafble. Suhendar Ketua Alumni Wyataguna (sekolah/ yayasan untuk masyarakat diafbel) menuturkan, fasilitas pedestrian yang ada Bandung, memang sudah cukup baik.

Namun ia menyayangkan, dibangunnya fasilitas pedestrian ‎belum ramah khususnya untuk masyarakat difable.

"Terbukti dengan adanya, glading box, malah di pasang tiang bendera, pot-pot bunga. Mana kala berbenturan penghalang justru kita berpikir dua kali. Itu bisa menimbulkan dampak baru, seperti kesandung dan kecelakaan," jelas Suhendar.

Dirinya menilai, dengan tidak libatkannya masyarakat difable dalam pembangunan fasilitas-fasilitas pedestrian, menjadikan tempat-tempat yang memiliki fasilitas pedestrian, hanya sebagai pemanis dalam mempercantik kota.

"Saat pembangunan tidak dilakukan jajak pendapat dengan disabilitas. Hanya estetika saja. Untuk keselurhan, fasilitas pedestrian, ‎belum memenuhi standar disabilitas. Untuk pembangunanya, jangan asal menunjuk‎ pihak ketiga yang tidak mengerti. Yah kita sih berharap antar pemerintah dan kita untuk tetap bersinergis yah," ungkapnya.

Jurnalis: Wawan Darmawan
Editor: Jumali


Bagikan :

Video Viral

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya

Our Partners