Rekomendasi

City Walk, Mimpi Kota Solo Wujudkan Kenyamanan Ruang Interaksi Publik

Sabtu, 08 Desember 2018 : 16.52
SOLO - Sarat dengan julukan. Kota Bengawan, Kota Budaya, Kota Batik, hingga Spirit of Java, Kota Solo hingga kini dikenal dengan kota yang masih mempertahankan beragam cagar budaya ditengah gempuran arus global.

Menikmati Kota Solo, rasanya belum lengkap jika tak menyusuri city walk, sebuah kawasan pedestrian yang panjangnya sesuai dengan panjang jalan utama di tengah kota, sekira 4,5 kilometer dengan lebar sekira 7 meter, terletak di sisi selatan jalan Slamet Riyadi.

Dimulai dari depan Stasiun Kereta Api Purwosari hingga kawasan bundaran Gladak, city walk di Kota Solo selain terlihat bersih dan lapang, juga memiliki keunikan tersendiri dengan pembagian beberapa segmen di dalamnya.

Di masing-masing segmen yang dipisahkan penggalan jalan ini, para pejalan kaki baik difabel maupun non difabel dapat mengakses langsung fasilitas publik seperti pusat perbelanjaan, pasar tradisional, wisata kuliner dan taman - taman kecil yang berfungsi sebagai rest area untuk sejenak melepas penat di bawah rindangnya pepohonan.

Sebagai kota yang menjadi salah satu dari 10 kota terbaik di Indonesia, kota yang pernah dipimpin Presiden Joko Widodo ini dinilai mampu membuat sebuah ciri khas untuk kotanya. Tidak hanya dari segi budaya, namun dari segi fisik kota, seperti bertahannya bangunan heritage (lama) dan bersejarah.

Pengamatan hariankota.com, Rabu (5/12/2018), beberapa bangunan heritage yang masih dirawat keasliannya diantaranya Loji Gandrung, bangunan peninggalan jaman Belanda yang sekarang digunakan sebagai rumah dinas walikota, museum Radya Pustaka, museum tertua di Indonesia peninggalan Paku Buwono IX yang menjadi satu dengan Taman Sriwedari. Keduanya nampak gagah tersaji di city walk.

Hanya saja seringnya timbul genangan air jika musim penghujan tiba akibat tersumbatnya saluran telah menimbulkan masalah dan diperlukan perbaikan untuk keindahan city walk, seperti kebersihan pedestrian, kebersihan saluran drainase, juga masalah tidak tertibnya warga menjadikan city walk sebagai tempat parkir.

Menyadari akan hal itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), terus berupaya memperindah city walk dengan melanjutkan proyek penataan taman di segmen penggalan Gladak hingga timur Nonongan.

Kepala DPUPR Solo Endah Sitaresmi Suryandari mengatakan penataan taman merupakan rangkaian pengerjaan proyek drainase city walk yang mendesak dikerjakan sekaligus mempercantik wajah Kota Solo.

Kondisi saat ini keberadaan taman di segmen Gladak - Nonongan lebih tinggi dari jalan raya. Selain itu taman tidak tertata rapi. Beberapa tanaman rusak karena terinjak-injak, serta  kondisinya semrawut ditambah kurangnya penerangan di malam hari. 

“Sekarang (segmen Gladak - Nonongan) kesannya tidak rapi. Jadi nanti kita buka seperti Loji Gandrung agar terlihat luas dan terang,” katanya.

Untuk proyek ini, sedikitnya Rp 4 miliar digelontorkan oleh Pemkot Solo guna membenahi drainase sekaligus penataan taman city walk dengan target rampung pada akhir tahun 2018.

Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo mengatakan semula city walk dibangun untuk memberikan ruang bagi pejalan kaki. Bahkan, kawasan pedestrian ini dinilai sebagai yang terpanjang di Indonesia.

Namun menurut Walikota, keberadaan city walk selama ini kurang begitu dimanfaatkan oleh para pejalan kaki. Berdasarkan pengamatannya tidak lebih 100 orang yang jalan-jalan setiap harinya. Kecuali saat Car Free Day (CFD) hari Minggu dimana bisa ribuan orang.

Oleh karenanya, dalam penataan ulang ini, Rudy berharap kawasan city walk menjadi lebih terbuka, diantaranya dengan menambah penerangan di malam hari sehingga bangunan - bangunan toko yang ada bisa terlihat dari jalan raya.

Tak hanya itu, mantan Wakil Walikota semasa Presiden Joko Widodo sebagai Walikota ini juga menggagas menghidupkan city walk pada malam hari.
Konsepnya dibuat mirip Malioboro Yogyakarta dengan menempatkan pedagang suvenir di sepanjang city walk. Selain pedagang, para pelaku seni juga dipersilahkan untuk tampil di sepanjang kawasan pedestrian tersebut.

"Apalagi kalau (pembuatan lukisan mural) Solo is Solo sudah merata di seluruh jalan Slamet Riyadi pasti akan menambah keindahan. City walk nggak akan kumuh seperti dulu," ujarnya, Minggu (2/12/2018) lalu.

Terpisah, anggota Solo Hertage Society, Kusumastuti, yang juga dosen jurusan Arsitektur Fakultas Tehnik Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo menilai, Kota Solo memiliki distrik yang sangat potensial dikembangkan melalui city walk sekaligus mampu mengangkat citra kota sebagai kota budaya-intelektual.

"Potensi yang memungkinkan dikembangkannya adalah, fungsi-fungsi cultural education seperti, perpustakaan kota, museum, art-centre, gallery seni, community centre, youth centre sekaligus leisure shopping ataupun leisure event," katanya.

Disebutkannya, distrik ini juga memiliki nilai sejarah tinggi sehingga city walk yang terbangun bisa dikemas menjadi walking tour yang memiliki kandungan wisata pendidikan. 

"Untuk pengembangan leisure retail dalam wujud makan dan minum atau wisata kuliner distrik ini juga dekat, dan tidak kalah nilainya adalah adanya lintasan jalur kereta api (KA) di tengah kota yang menghubungkan Purwosari menuju Sangkrah hingga Kabupaten Wonogiri," pungkasnya

Jurnalis: Sapto Nugroho
Editor: Jumali


Bagikan :

Video Viral

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya

Our Partners