Rekomendasi

Melihat Seni di Jalur Pendestrian Kota Semarang

Sabtu, 08 Desember 2018 : 16.41
SEMARANG - Sebagai Ibukota Jawa Tengah, Kota Semarang tak mau kalah dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia dalam menyediakan jalur pendestrian bagi warganya.

Di Semarang, Pedestrian atau trotoar tak sekadar lebar dan nyaman untuk berjalan kaki, tetapi juga mendapat sentuhan seni.
Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, mengatakan, hingga 2017 terdapat sekira 6.600 meter pedestrian yang telah dibangun di sejumlah ruas jalan.

Konsep pembangunannya tak hanya mengandalkan pedestrian yang lebar dan luas, tetapi juga didukung dengan ornamen serta bangku bagi pengguna jalan.

“Di tahun 2017 ada 6.600 meter. Jadi hampir 7 kilometer trotoar yang kita perbaiki. Tahun 2018 kita terus melakukan upaya-upaya perbaikan. Harapan kami semua, trotoar di Semarang jadi lebih bagus, indah, sejuk karena banyak pohon-pohon besar di sekitar trotoar,” ujar pria yang akrab disapa Hendi belum lama ini.

Pembangunan pedestrian ini meningkat tajam, karena pada 2016 hanya sekira 3.000 meter. Pemkot Semarang melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) tak hanya membuat pedestrian baru, tetapi juga membongkar lama trotoar lama digangti menjadi lebih lebar dan artistik.

Hendi menyampaikan, ruang bagi pejalan kaki sangat dibutuhkan seiring dengan peningkatan kemacetan di beberapa ruas jalan. Sebab, salah satu indikator kemacetan adalah banyaknya pertumbuhan kendaraan baik roda empat roda dua yang tidak mampu diimbangi dengan pelebaran atau optimalisasi jalan raya.

“Ini enggak bisa berbanding lurus, karena fasilitas untuk memiliki kendaraan itu sangat mudah. Kredit 0% bahkan tanpa DP langsung bisa dapat kendaraan. Sedangkan untuk proses pelebaran jalan kita harus membebaskan lahan, satu sisi masyarakat belum tentu mau, jadi tidak berimbang,” jelasnya.

Untuk mengatasi permasalahan yang kerap melanda Kota Metropolitan itu, Hendi menggandeng berbagai pihak termasuk akademisi untuk melakukan studi. Hasilnya, pemerintah tak hanya perlu segera menyiapkan transportasi umum yang murah dan nyaman, tetapi juga trotoar.

“Selain transportasi yang bisa nyambung, connecting, dari ujung kota sampai ujung kota lain, kita harus memfasilitasi trotoar. Trotoar harus dibuat sebagus mungkin, senyaman mungkin, dengan pohon-pohon besar, juga harus ada dalam wilayah yang cukup strategis. Dengan demikian orang-orang akan lebih banyak memakai transportasi umum atau berjalan kaki,” beber dia.

Sejumlah ruas jalan di Kota Semarang yang kini tampak menarik dan di antaranya Jalan Pemuda, Jalan Pandanaran, Kawasan Simpang Lima, Jalan Veteran, Jalan Diponegoro, Jalan Madukoro, serta Jalan Imam Bonjol Semarang. Pedestrian itu menjadi tempat yang nyaman, karena juga dilengkapi bangku dan guidance block, serta jalur khusus difabel.

“Kita juga buat trotoar ini harus bisa dipakai oleh semua kalangan tidak hanya manusia yang sehat secara fisik saja tetapi juga disabilitas harus bisa pakai trotoar sehingga juga kita kembangkan trotoar yang ramah untuk semuanya,” tukas Hendi.

Trotoar dibangun dengan lantai warna-warni yang diberi beberapa bollard patok untuk mencegah pengendara sepeda motor masuk, taman, serta conquered ball (bola-bola beton) di bagian tepi. Bola-bola beton ini dilukis dengan beragam motif yang mengangkat kearifan lokal Kota Semarang.

Seperti Warak Ngendok, yang lekat dengan budaya Semarang. Warak Ngendok merupakan makhluk rekaan yang merupakan akulturasi berbagai etnis di Semarang yaitu etnis Cina, Arab, dan Jawa.

Kepalanya menyerupai kepala naga khas kebudayaan Cina, tubuhnya berbentuk unta khas etnis Arab, dan keempat kakinya menyerupai kaki kambing khas budaya Jawa.

Jurnalis: Nugi Hartanto
Editor: Jumali

Bagikan :

Video Viral

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya

Our Partners