Rekomendasi

Menikmati Pendestrian di Ibukota Jakarta

Sabtu, 08 Desember 2018 : 15.29
HAMPIR tiap hari Hastuti Jayanti (32) melintasi di trotoar Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Dia kagum dengan keelokan tersebut yang menurutnya nyaman dan ramah bagi pejalan kaki.

"Bisa juga ya trotoar di Jakarta rapi seperti sekarang," kata perempuan cantik dengan rambut sebahu kepada hariankota.com
Hastuti merupakan ASN di lingkungan Pemprov DKI Jakarta yang berkantor di bilangan Jalan Sudirman.

Dia sering berangkat dari rumah dengan menumpangi Bus Transjakarta dan turun di Halte Transjakarta Dukuh Atas. Dari sana, dia kerap berjalan kaki di pedestrian Sudirman menuju kantor, Begitu juga saat pulang.

Trotoar di Jalan Sudirman hingga Jalan MH Thamrin memang sudah didesain sebagai kawasan pedestrian, tempat orang-orang berjalan kaki sambil menikmati keindahaan kota.

Trotoar di situ lebih lebar bahkan sampai 9 meter. Diselimuti ubin abu-abu, ada taman kecil di atasnya.

Pada malam hari, trotoar di sepanjang jalan tersebut juga disirami cahaya lampu sehingga kelihatan makin elok.

Ketika melangkahkan kaki di atas trotoar, Hastuti menunjuk garis kuning bertekstur balok yang membentang sepanjang trotoar sebagai jalur khusus untuk disabilitas.

"Jadi trotoar di sini ramah juga untuk para difabel. Dulu mah seingat saya enggak ada tuh," ujarnya.

Tapi, pejalan kaki mengeluh masih minimnya pohon di sekitar pedestrian tersebut sehingga saat matahari terik tak bisa berlindung. Pohon sebenarnya sudah ditanam, tapi masih kecil.

"Semoga saja pohon di sini cepat tumbuh. Soalnya kalau jalan kaki pas siang terasa banget panasnya," kata Hastuti ibu dengan dua anak.

Setelah dipoles hingga cantik, trotoar di sepanjang jalan itu, menurut Hastuti, kini makin banyak dilalui pejalan kaki terutama pekerja kantor di sekitaran Sudirman. Sepeda motor juga tak bisa lagi naik ke situ.

"Dulu jalan kaki di sini berebutan sama motor yang nakal. Jalanannya macet, jadi pada naik trotoar," ujarnya.

Di Jalan MH Thamrin, trotoarnya juga elok. Di sana juga ada bangku taman yang terletak tiap 50 meter.

Pejalan kaki bisa bersantai, menunggu atau rehat di situ sambil menikmati lalu lalang kenderaan di depan dan gedung-gedung perkantoran yang menjulang.

Tapi, jumlah tempat sampah yang minim masih jadi masalah. Sehingga, tak aneh bila sampah puntung-puntung rokok berserakan di sana-sini.

Trotoar ini masih terus dipercantik. Tengah pekan lalu terlihat sejumlah pekerja memoles ubin dengan adonan semen dan mengecat jembatan Transjakarta.

Lulu (22) dan Lukman (24), sejoli yang sedang duduk santai di bangku pedestrian Jalan MH Thamrin depan Halte Plaza Indonesia sambil menunggu bus, mengaku bangga dengan kawasan pedestrian tersebut. Tapi, keduanya punya harapan untuk Pemprov DKI.

"Tempat sampah diperbanyak aja," kata Lulu sembari meminta pemerintah terus merawat pedestrian.

Penataan trotoar menjadi kawasan pedestrian di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin sudah direncanakan sejak Pemprov DKI Jakarta dipimpin Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Lalu, Anies Baswedan yang melanjutkan estafet kepemimpinan menyempurnakan jadi seperti sekarang.

Sebelum Asian Games 2018 berlangsung, penataan trotoar di kawasan tersebut sampai ke sekitar Gelora Bung Karno dikebut.

Anies merancang kawasan pedestrian itu dengan nuansa kebudayaan Indonesia dan unik dengan jalur transparan juga.

“Jalur Sudirman-Thamrin ini kita sebut dengan istilah sabuk nusantara, karena di sana ada ruang-ruang ekspresi berbagai budaya di nusantara," ujarnya suatu ketika.

Jakarta memiliki beberapa kawasan pederstrian. Selain di Jalan Sudirman-Thamrin, pedestrian ada juga di sekitar Tugu Tani, Monas, GBK.

Pemprov DKI masih terus menata trotoar dan memperlebarnya seperti yang terlihat di Jalan Menteng Raya, Jalan Prapatan dan Jalan Arief Rachman Hakim atau sekitaran kawasan Patung Tugu Tani.

Tapi, lebar jalur pejalan kaki di sana hanya sekira 3 meter. Terkait fasilitas yang tersedia hampir sama, tapi tempat sampah minim.

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna menilai Pemprov DKI masih kurang memperhatikan fasilitas pendukung atau street furniture dalam penataan trotoar.

" Street furniturenya masih kurang. Itu seperti tempat sampah dan tempat duduk," kata Yayat.

Sementara Kepala Seksi Perencanaan Prasarana Jalan dan Utilitas Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Riri Asnita menjelaskan, dalam desain awal revitalisasi trotoar, tempat sampah itu ditempatkan secara berjejer dengan diberikan jarak setiap 200 meter.

"Lokasi tempat sampah itu kurang lebih per jarak sekitar 150-200 meter. Secara desain kami," terangnya.

Riri mengaku akan berkordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup agar penempatan tempat sampah diatur sesuai dengan rencana awal.

Jurnalis: Martin
Editor: Jumali





Bagikan :

Video Viral

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya

Our Partners