Rekomendasi

Arsitek Milenial Berbagi Ilmu dengan Mahasiswa Arsitek

Selasa, 29 Januari 2019 : 17.52
Published by Hariankota
YOGYAKARTA - Mahasiswa arsitek dan arsitek-arsitek muda berkumpul di Mezanine Cafe, Jalan Palagan Tentara Pelajar, Sleman. Mereka berdiskusi dan saling tukar pikiran dalam event Seminar Karya dan Pameran Arsitektur Indonesia (Sakapari) 2019 yang mengambil tema Sustanability for Architecture.

Begitu juga para pemenang sayembara desain rancang bangun kawasan kumuh Kali Buntung, Sleman menularkan ilmu. Mulai dari Widodo Agung Nugraha, Peda Bayu, dan Theo Rifai dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) mempresentasikan karya-karyanya.

Ketua IAI DIY, Ahmad Syaifudin Mutaqie mengatakan berbagi ilmu itu sangat baik. Pengalaman merupakan ilmu yang terkadang tidak diperoleh dalam bangku kuliah. Tak heran, kegiatan sharing (diskusi) ini mengandeng mahasiswa arsitek dan khalayak umum.

"Ilmu yang baik itu pengalaman. Sharing diskusi ini sangat baik dalam berbagi pengalaman dalam dunia arsitek," katanya pada wartawan, Senin (28/1/2019) tadi malam.

Apalagi, kata dia, saat ini sudah ada Undang-Undang Arsitek yang disyahkan oleh pemerintah tahun lalu. Implementasi dari UU Arsitek itu efektif akan berlaku pada Agustus tahun 2019 nanti.

"Arsitek itu mereka yang praktek arsitek. Syarat praktek arsitek ada tiga hal, pertama dia harus uji kompeten, kedua teregeristrasi, dan memiliki ijin atau lisensi," katanya.

Sayangnya, kata dia, belum semua wilayah setingkat provinsi memiliki dewan yang mengeluarkan lisensi. Dia memberi contoh untuk DI Yogykarta yang belum ada instrumen dalam mengeluarkan lisensi.

"Kalau di Jakarta sudah ada melalui pergub, kita di Yogya belum ada. Kita dorong agar Gubernur membuat instrumen dalam pengeluarkan ijin arsitek," katanya. Pihaknya sudah melakukan berbagai hal, termasuk membentik Forum Komunikasi Pendidikan Arsitek Jogja Istimewa yang disingkat menjadi Forkom Paijo.

Tak hanya mengandeng instansi pemerintah, mereka juga melakukan kerjasama dengan pihak universitas yang memiliki program studi arsitek.

Syaifudin menyampaikan ada sekira 160 Perguruan Tinggi baik swasta maupun negeri yang memiliki jurusan arsitek. Jika dirata-rata dalam setahun menerima 100 mahasiswa arsitek setiap Perguruan Tinggi, ada sekira 16.000 mahasiswa arsitek setiap tahun.

"Hanya ada sekitar 25 persen mahasiswa arsitek menjadi arsitek. Sisanya menempuh jalur lain, ada yang jadi kontraktor, pengembang, dan masih banyak profesi lainnya," katanya.

Syaifudin berharap profesi arsitek ini seperti dokter. Artinya, orang yang menempuh pendidikan di arsitek bisa menjadi arsitek. Ia membandingan mahasiswa kedokteran yang rata-rata diangka 90 persen setelah lulus menjadi dokter.

"Diskusi dengan mahasiswa arsitek ini sangat penting untuk memberi pembekalan pada calon-calon arsitek. Mereka yang menularkan ilmu itu juga arsitek-arsitek muda milenial," tandasnya.

Sementara Sekretaris Jurusan Arsitek UII Yogyakarta, Dr. Ing Nensi Golda Yuli mengatakan sharing session diskusi ini menjadi pengalaman sangat baik bagi mahasiswa arsitek. Tak hanya pemenang sayembara kawasan kumuh Kali Buntung yang mempresentasikan desainnya.

Tapi ada juga pemenang sayembara lain seperti Amelia Febriana dan teamnya yang memenangkan rancang bangun kawasan Tugu Simpang Lima Takengon, Aceh. Ada juga Muh. Ihsan Hernanta dan kawan-kawannya menjuarai sayembara Liveble Oasis.

"Kita berharap ide-ide, gagasan yang ada terus mendapat ruang dalam berinovasi mewujudkan arsitek yang ramah lingkungan serta berkelanjutan," tandasnya.

Jurnalis: Prabowo
Editor: Rahayu

Share this Article :

Berita Terbaru

Read More