Rekomendasi

Komas Sebut Tak Semua Santri Pilih Kiai di Pilpres 2019

Rabu, 02 Januari 2019 : 22.30
YOGYAKARTA - Calon Presiden Joko Widodo sudah menggandeng kiai dalam kontestasi pilpres 2019. Namun bukan jaminan bagi para santri dan alumni untuk memilih pasangan ini. Sebab para santri dan alumni ini beragam.

Ada Komunitas Masyarakat Santri atau Komas justru bergerilya untuk memenangkan pasangan Prabowo - Sandi. Mereka bergerak secara masip di kalangan santri hingga alumni.

"Meski ada cawapres seorang kiai, tidak jaminan santri memilihnya karena pemikiran santri itu beragam," kata Sekretaris Jenderal Komas Pusat, Baharuddin Harahap di Yogyakarta, Rabu (2/1/2019).

Pandangan politik kaum santri itu berbeda-beda dalam menentukan pilihan politik. Ia melihat kondisi bangsa di tiga tahun terakhir dinilai sudah terpuruk di berbagai bidang. "Di bidang politik terjadi kegaduhan yang terus menerus yang tidak terlepas dari langkah atau kebijakan yang tidak tepat," katanya.

Hukum, kata dia, terkesan dijadikan alat politik dan propaganda bagi penguasa dan pemerintah untuk mempertahankan dan memperpanjang kekuasaan. Begitu juga perekonomian Indonesia terpuruk dan semakin memburuk.

"Terlalu banyak kebijakan sektor ekonomi pemerintah saat ini yang sangat merugikan masyarakat," katanya. Di bidang sosial, sangat terasa benih-benih yang mengarah pada perpecahan. Pemerintah sepertinya membiarkan, bahkan terkesan menciptakan perpecahan yang terkesan dibiarkan begitu saja.

Komas ini merupakan wadah bagi para alumni pondok-pondok pesantren dan masyarakat berjuang mencerdaskan bangsa dan mengupayakan kesejahteraan sosial bagi umat. "Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti," kata Bahar yang menyampaikan motto (semboyan) komunitas ini.

Jaringan Komas untuk memenangkan pasangan nomor 02 ini sudah luas. Setidaknya sudah ada 22 kepengurusan di berbagai wilayah. Bahkan sudah ada ada yang di luar negeri untuk kemenangan Prabowo Sandi.

"Kami menyasar para santri, alumni pesantren dan masyarakat untuk merajut ukhuwah, membangun negeri," kata Ketua Komas DIY Pekik Tri Purnawan yang akrab dipanggil Ustadz Pongki.

Alumnus Pondok Modern Gontor ini juga menyoroti banyaknya mahasiswa dan santri di Daerah Istimewa Yogyakarta yang potensial menjadi pemilih tetapi justru akan kehilangan hak mencoblos.

Sebab, saat pemilihan umum para mahasiswa sedang mengikuti ujian akhir semester. Lagi pula mayoritas mahasiswa datang dari berbagai wilayah di Indonesia.

“Mereka harus mengurus formulir A5 di daerah masing-masing jika ingin mencoblos di Yogyakarta. Mereka akan berpotensi kehilangan hak pilih jika sosialisasi di kampus atau di kalangan pesantren bagi pemiih pemula tidak digalakkan,” kata dia.

Lagi pula, bagi mereka yang sudah mengurus A5 hanya bisa memilih presiden/wakil presiden, tidak untuk DPRD/DPR dan DPD.

Sedangkan tempat pemungutan suara hanya dilebihkan 10 persen dari daftar pemilih tetap. Sedangkan jumlah mahasiswa dan santri (yang sudah punya hak pilih) dari luar Daerah Istimewa Yogyakarta lebih dari 500 ribu orang.

Darma Setiawan, Ketua Pemenangan pasangan Prabowo / Sandi Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan, santri merupakan basis yang harus digarap oleh timnya. Terutama yang berada di pedesaan untuk menambah suara. Bahkan banyak mahasiswa di kota pelajar ini yang merupakan alumni pesantren.

“Komunitas Masyarakat Santri ini sangat potensial untuk mengedukasi dan karena basis mereka adalah pesantren maka sangat mungkin untuk menjadi ujung tombak pemenangan kami,” kata dia saat ditemui di kantor DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jurnalis: Danang Prabowo
Editor: Bagya Komang

Bagikan :

Video Viral

Loading...

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Read More

Our Partners