Rekomendasi

Otak Pembunuhan Wartawan Bali Dapat Grasi Dikecam, Menkumham: Itu Bukan Grasi, Remisi Perubahan

Rabu, 23 Januari 2019 : 12.51
Published by Hariankota
DENPASAR - Kecaman terhadap Pemberian grasi kepada I Nyoman Susrama selaku otak pembunuhan wartawan Bali AA Gde Bagus Narendra Prabangsa bermunculan.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta untuk mencabut grasi tersebut. Pasalnya, pemberian grasi ini dianggap sebagai langkah mundur dalam penegakan kemerdekaan pers.

Menanggapi hal itu, Menteri Hukum dan Hak Asasi Kemanusiaan (Menkumham) Yasonna H Laoly menerangkan, Kepala Negara tak memberika grasi kepada I Nyoman Susrama. Dia bilang pemerintah hanya memberikan remisi.

"Itu bukan grasi, remisi perubahan. Remisi," kata Yasonna di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/1/2019). Menurut Yasonna, pertimbangan pemberian remisi perubahan tersebut karena pelaku telah menjalani hukuman hampir sepuluh tahun.

"Pertimbangannya, dia hampir sepuluh tahun, sekarang sudah sepuluh tahun di penjara," sambungnya.

"Jadi prosesnya begini ya, itu remisi perubahan dari seumur hidup menjadi 20 tahun berarti kalau dia sudah 10 tahun tambah 20 tahun, (jadi) 30 tahun. Umurnya sekarang sudah hampir 60 tahun," papar politikus PDI Perjuangan itu.

Yasonna melanjutkan, I Nyoman Susrama juga berkelakuan baik selama menjalani masa hukumannya. Ia pun telah mengikuti seluruh prosedur sebelum mendapatkan remisi tambahan.

"Dia selama melaksanakan masa hukumannya, tidak pernah ada cacat, mengikuti program dengan baik, berkelakuan baik, dan prosedurnya itu. Pertama diusulkan dari lapas, setelah melihat record dia dibawa ke Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP). Oleh TPP pada tingkat lapas diusulkan ke Kanwil," jelas Yasonna.

Setelah diusulkan dari Kanwil, lanjut dia, TPP akan menggelar rapat untuk mengusulkan I Nyoman Susrama mendapatkan remisi ke Dirjen PAS Sri Puguh Budi Utami. Selanjutnya, Dirjen PAS kembali membahas rencana pemberian remisi tambahan tersebut bersama TPP.

"Karena untuk prosedur itu sangat panjang baru diusulkan ke saya. Melibatkan institusi lain," paparnya. Yasonna menegaskan, pemberian remisi tambahan ini telah dilakukan berulang kali kepada para napi. Kasus ini, ujar dia, juga bukan extra ordinary crime.

"Yang penting bahwa dia sudah selama hampir sepuluh tahun. Jadi jangan grasi dikatakan, itu perubahan hukuman, remisi, perubahan hukuman," tandasnya.

Jurnalis: Nuraini
Editor: Gunadi

Share this Article :

Video Presiden Jokowi Bersama Keluarga Masuk ke Dalam Ka'bah Saat Ibadah Umroh

Berita Terbaru

Read More

Our Partners