Rekomendasi

Protes Mosaik Jalan Mirip Salib, Massa DSKS Unjuk Rasa di Depan Balaikota Solo

Jumat, 18 Januari 2019 : 17.20
Published by Hariankota
SOLO - Ratusan elemen umat muslim yang tergabung dalam Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) berunjuk rasa menentang penataan koridor jalan Jenderal Sudirman berupa pemasangan paving block membentuk mosaik menyerupai salib (simbol agama Katolik).

Selepas melaksanakan Sholat Jum'at, (18/1/2019) sekira pukul 13.30 WIB, massa peserta aksi unjuk rasa mulai berkumpul di sekitar Tugu Pemandangan depan Balaikota Solo yang juga lokasi proyek penataan jalan dimana mosaik itu berada.

Pantauan hariankota.com dilokasi, dengan menggunakan truk komando yang membawa pengeras suara, masing – masing tokoh mewakili berbagai elemen menyuarakan aspirasinya kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Solo agar mengevaluasi kembali desain mosaik paving block lantaran dinilai telah menimbulkan polemik ditengah masyarakat.

Dalam rilis yang dibagikan kepada awak media, DSKS meminta agar Jalan Jenderal Sudirman, yang merupakan nama tokoh pejuang kemerdekaan yang juga muslim, tidak dinodai dengan mosaik mirip salib.

DSKS yang di pimpin Ustadz Mu'inudinillah Basri ini berpendapat, renovasi dan kreasi untuk tujuan meningkatkan pariwisata tidaklah harus berpolemik dan mencipatkan isu Sara yang akan berdampak pada terganggunya kondusifitas serta kenyamanan Kota Solo.

"Kami minta kepada Walikota Solo untuk bisa menyerap aspirasi warga, khususnya keluhan, kenyamanan bertransportasi dan tetap menjaga perasaan umat beragama lainnya," terang Humas DSKS, Endro Sudarsono dilokasi aksi.

Disebutkan Endro, aksi turun ke jalan dilakukan untuk merespon keresahan warga setelah mengetahui keberadaan mosaik di tengah jalan mirip salib di Tugu Pemandangan depan Balaikota Solo, juga tak jauh dari gapura Keraton Solo.

"Polemik ini muncul setelah masyarakat melihat sebuah unggahan foto di Instagram yang diambil dari udara tentang bentuk mozaik di Jalan Jenderal Sudirman yang ternyata mirip salib," kata Endro.

Sebelumnya, Pemkot Kota Solo menyatakan, tidak akan merubah desain penataan koridor jalan Jenderal Sudirman meski menuai kontroversi. Mosaik yang mengelilingi Tugu Pemandangan tersebut, disebutkan berbentuk delapan arah mata angin, dan bukan berbentuk salib.

Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo saat dikonfirmasi di Balaikota, Kamis (17/1/2019) kemarin, menyampikan, penataan kawasan itu sejak awal tidak direncanakan untuk membuat simbol salib di tengah jalan.

"Yang jelas, kita tidak punya pemikiran dan perencanan membuat salib di tengah jalan. Karena perencanaannya dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU) seperti itu dan spesifikasinya seperti itu, jadi tetap dilanjutkan," ujarnya.

Rudy menegaskan, apabila mosaik itu merupakan simbol salib, maka seharusnya dirinya sebagai pemeluk agama Katolik yang pertama kali melakukan protes, tidak bisa menerima salib sebagai simbol agama diletakkan di tengah jalan dan bahkan diinjak-injak oleh kendaraan yang melintasinya.

Untuk itu, Rudy pun meyakini sepenuhnya bahwa mosaik itu bukanlah simbol salib. "Wong itu ada filosofinya sendiri terkait desain itu. Tidak ada simbol agma apapun," pungkasnya.

Jurnalis: Sapto Nugroho
Editor: Jumali

Share this Article :

Video Presiden Jokowi Bersama Keluarga Masuk ke Dalam Ka'bah Saat Ibadah Umroh

Berita Terbaru

Read More