Rekomendasi

Ramai-ramai Mengincar Kursi Kepala Desa, Murni Pengabdian Atau Mengejar Proyek Dana Desa?

Kamis, 31 Januari 2019 : 23.34
Published by Hariankota
Pada tanggal 20 Februari 2019 mendatang, pemilihan kepala desa (pilkades) akan digelar serentak di 145 di Karanganyar.

Para kontestan, baik incumbent, maupun calon kepala desa yang baru, membutuhkan uang yang cukup besar untuk meraih dukungan dan memenangkan pesta demokrasi di tingkat desa ini.

Menurut beberapa kepala desa dan mantan kepala desa, keinginan menjadi kepala desa, harus diniatkan untuk membangun desa.

Namun disisi lain, tidak cukup dengan modal pengabdian, dan memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Tanpa modal yang cukup, kemungkinan terpilih sangat kecil.

Berikut laporan wartawan Hariankota.com, Iwan Iswanda dari Karanganyar 

KARANGANYAR - Perhelatan pesta demokrasi untuk memilih kepala desa di Karanganyar yang akan digelar tanggal 20 Februari 2019 mendatang mulai terasa. Berbagai spanduk, baliho para calon kepala desa, mulai terlihat di sejumlah sudut kampung. Dengan menawarkan sejumlah program para calon kepala desa ini berupaya untuk menarik simpati para pemilih.

Calon kepala desa Gantiwarno, Kecamatan Matesih, Sri Mulyani, kepada hariankota.com, mengatakan, salah satu motivasinya mendaftar sebagai calon kepala desa, selain sebagai pengabdian kepada masyarakat, juga untuk melanjutkan kepemimpinan suaminya, yang sebelumnya adalah kepala desa setempat.

“Saya ingin melayani masyarakat dengan berbagai program yang sebelumnya sudah dilaksanakan oleh suami saya. Pemberdayaan perempuan merupakan program utama yang akan saya laksanakan jika nantinya terpilih sebagai kepala desa,” katanya, Kamis (31/01/2019).

Ketika disinggung mengenai motivasinya maju sebagai calon kepala desa karena besarnya alokasi dana desa (ADD) serta dana desa (DD) serta sejumlah pembangunan infrastruktur yang semakin meningkat, Sri Mulyani, menegaskan, kucuran dana dari pemerintah untuk desa memang cukup besar.

Namun dana itu nantinya, lanjut Sri Mulyani, seluruhnya akan digunakan untuk kepentingan masyarakat.

“Saat ini kita tidak bisa untuk bermain. Apalagi terlibat dalam proyek. Masyarakat, wartawan pasti akan mengawasi. Untuk itu, saya tidak akan tertarik. Biarlah dana itu yang mengelola masyarakat sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, kepala desa incumbent desa Karang, kecamatan Karangpandan, Dwi Purwoto, mengatakan, pada pemilihan kepala desa ini, merupakan yang ketiga kalinya. Dwi Purwoto, mengaku akan melanjutkan berbagai program kerja yang selama ini masih belum tuntas.

“Sejak awal, niat saya menjadi kepala desa untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat, dan tidak ada niatan lain. Alhamdulillah, selama dua periode saya menjabat kepala desa, semua berjalan lancar, tidak ada masalah,” jelasnya.

Dwi Purwoto juga mengakui, besarnya ADD dan DD, yang dikucurkan oleh pemerintah. Namun besarnya angaran yang dikucurkan tersebut, tidak serta merta dapat digunakan dengan seenaknya.

“Kita tidak bisa main-main dengan anggaran. Apalagi anggaran itu berasal dari pemerintah. Sedikit saja ada penyimpangan, langsung dapat diproses hukum. Dan saya tidak mau mengambil resiko itu. Dengan penghasilan dari tanah desa yang kita kelola, ditambah dengan usaha pribadi, saya pikir itu lebih dari cukup,” tegasnya.

Hal senada dikatakan calon kepala desa incumbent desa Bangsri, kecamatan Karangpandan, Bambang Sri Sukawati. Menurutnya, diperiode kedua ini, dirinya sebenarnya tidak berniat lagi mencalonkan sebagai kepala dasa. Namun karena keinginan dari masyarakat.

“Saya sebenarnya ingin mundur. Tapi karena masyarakat masih menginginkan, ya saya harus menghargai keinginan masyarakat untuk maju lagi sebagai calon kepala desa,” kata dia.

Ketika disinggung mengenai motivasi para calon kepala desa yang tergiur dengan pengelolaan dana yang cukup besar dari pemerintah, Bambang mengingatkan agar berhati-hati.

“Kalau niatnya untuk mengelola anggaran dari pemerintah yang cukup besar, niat itu harus dikaji lagi. Jangan pernah berpikir menjadi kepala desa itu mudah, apalagi mengelola anggaran. Saat ini masyarakat semakin cerdas dan kritis.

Dan jangan coba-coba main anggaran jika tidak ingin bermasalah. Kalau mau jadi kepala desa, niatkan saja untuk pengabdian dan membangun desa agar lebih maju. Itu saja,” tegasnya. (Bersambung)
Share this Article :

Video Presiden Jokowi Bersama Keluarga Masuk ke Dalam Ka'bah Saat Ibadah Umroh

Berita Terbaru

Read More

Our Partners