Rekomendasi

UII Yogyakarta Dorong Arsitek Lestarikan Lingkungan

Kamis, 31 Januari 2019 : 22.59
Published by Hariankota
YOGYAKARTA - Ketua Jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia, Noor Cholis Idham mengatakan bahwa lingkungan lestari yang berkelanjutan bukan sekedar wacana. Namun, sudah mempengaruhi kehidupan dalam keseharian.

Menurutnya, kerusakan lingkungan disebabkan dominasi manusia sebagai akibat dari exploitasi alam, seperti emisi karbon tinggi, penggunaan energi tak terbarukan, produksi sampah yang tak terkendali dan lainnya.

"Itu semua efek samping proses 'pembangunan' yang tidak diharapkan," katanya dalam Seminar Sakapari-3 yang mengambil tema 'Lingkungan yang Berkelanjutan dalam Arsitektur' di Kampus UII Yogyakarta, Kamis (31/1/2019).

Disisi lain, kata dia, manusia semakin menderita dari akibat langsung maupun tidak perihal pembangunan. Artinya, manusia bertindak sebagai korban, namun juga selaku pelaku dalam lingkunan.

Dunia arsitektur memiliki peran besar dalam kerusakan alam itu. Kesalahan konsep pembangunan di negara tropis, termasuk Indonesia, diantaranya banyak mengadopsi arsitektur barat yang pengunaan beton dan alumunium.

"Kita dorong arsitek fokus pada pentingnya pembangunan yang menerapkan lingkungan berkelanjutan. Misal penggunaan kayu dan bambu dalam membuat bangunan," katanya.

Jurusan Arsitek UII Yogyakarta, kata dia, secara konsisten menyelenggarakan pendidikan arsitektur berkelanjutan sesuai visi dan misinya untuk turut serta dalam membangun peradaban madani sekaligus peduli terhadap permasalahan berkelanjutan alam dan sosial.

"Ini semua dalam upaya ikut bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan, membangun peran kemanusiaan, sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan arsitektur," katanya.

Tiga pembicara mulai dari Prof. Dr Joseph Prijotomo, Dr. Jatmika Adi Suryabrata, dan Jarwa Prasetya dari Ikatan Arsitek Indonesia menyampaikan pandangannya. Rektor UII Yogyakarta, Fathul Wahid menyambut baik kegiatan yang mengandeng IAI serta banyak pihak ini.

"Berlebihan itu menjadi sumber masalah, dasar teologis jelas. Ini yg perlu dihindari," katanya. Termasuk, dalam dunia arsitektur. Dia memberi gambaran tentang bangunan pagar rumah yang bisa jadi sebagai intimidasi atau memerdekaan orang tanpa intimidasi. Itu semua merupakan pilihan.

"Ada ungkapan pagar besi lebih kokoh dari nasi," katanya. Untuk itu, hidup di tengah masyarakat

Jurnalis: Prabowo
Editor: Rahayu

Share this Article :

Berita Terbaru

Read More