Rekomendasi

Diskusi Kebangsaan Warnai Haul Gus Dur Ke-9 di Solo

Sabtu, 23 Februari 2019 : 15.10
Published by Hariankota
SOLO - Dalam rangka Haul Ke-9 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang dipusatkan di Kota Solo sebuah diskusi kebangsaan bertema “Mbabar Pitutur Gus Dur," atau membahas pemikirannya digelar Pendapi Gede, Balaikota Solo, Sabtu (23/2/2019).

Pantauan hariankota.com diskusi yang dihadiri seratusan peserta ini menghadirkan beberapa pembicara diantaranya A.S. Hikam, Menristek di Era Gus Dur, yang begitu dekat mengenal pribadi maupun pemikiran-pemikiran kebangsaan Gus Dur.

Selain AS Hikam, juga ada tokoh lain seperti Dian Nafi', Dipokusumo putera Raja Keraton Surakarta Paku Buwono (PB) XII, dan Wahyu Muryadi.

“Bagi saya, Gus Dur adalah orang yang multidimensi. Beliau bisa dilihat dari berbagai sisi. Kalau hendak mengenang pemikiran Gus Dur, kita harus tahu mau lihat dari sisi yang mana,” kata Hikam.

Dalam pandangan Hikam, Gus Dur giat mencari cara bagaimana membuat agama yang berbeda-beda bisa menemukan titik temu untuk membuat sebuah keharmonian.

Menurut Hikam pemikiran Gus Dur dapat dirumuskan diantaranya, persatuan antar umat dan saling memberikan perlindungan terhadap umat lain, terutama kelompok minoritas.

"Gus Dur juga menentang radikalisasi agama dengan berpartisipasi pada upaya-upaya pembangunan harmoni antar umat, tidak memaklumi aksi dan perbuatan radikalisasi agama di masyarakat," katanya.

Penguatan peran masyarakat melakukan deradikalisasi di masyarakat dengan menguatkan deteksi dini di masyarakat dan pendampingan bagi mantan pengikut kelompok radikal dikutip dari pemikiran Gus Dur juga amat penting.

"Dan terakhir, meningkatkan kesadaran dan perlindungan terhadap perempuan dan anak-anak yang seringkali rentan dan berpotensi menjadi sasaran radikalisasi,"ujarnya.

Dalam pemikiran Gus Dur, kata Hikam, tetapi seringkali perempuan juga berfungsi sebagai penetralisir konflik, dengan bekerja sama dengan pihak terkait meningkatkan kesadaran anti terorisme.

"Jika warisan pikiran Gus Dur ini dapat terimplementasi dengan baik, maka tidak ada yang namanya identitas kelompok, saling fitnah dan menyalahkan di kehidupan bangsa Indonesia," terangnya.

Diketahui, mantan Presiden RI Ke -4 ini ternyata juga mendapat gelar dari Keraton Surakarta dengan sebutan Kanjeng Pangeran Haryo (KPH).

Dipokusumo yang merupakan salah satu putera Raja Keraton Surakarta PB XII pada kesempatan itu menjelaskan bahwa gelar tersebut diberikan merupakan bentuk pengakuan keraton kepada Gus Dur sebagai bagian dari kerabat kerajaan.

"Gelar itu diberikan oleh suwargi (almarhum) Ingkang Sinuwun PB XII, pada waktu itu Gus Dur akan ziarah ke makam Sultan Agung di Astana Imogiri," tandasnya.

Jurnalis: Sapto Nugroho

Editor: Gunadi

Share this Article :

Berita Terbaru

Read More