Rekomendasi

Nekat Simpan Upal, Tak Berkutik Dirazia Polisi

Kamis, 28 Februari 2019 : 16.27
Published by Hariankota
SUKOHARJO - Sengaja menyimpan uang palsu (upal) seorang laki - laki berinisial S (45) warga Dukuh / Desa Pucangan, Kecamatan Kartasura harus berurusan dengan Polisi dan terancam kurungan penjara.

Bermula saat Polres Sukoharjo gelar operasi cipta kondisi dijalan Pajang - Kartasura, tepatnya masuk Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kamis, 14 Februari lalu. Sewaktu petugas melakukan pemeriksaan, didapati seorang laki - laki yang tak lain tersangka S menyimpan sejumlah upal.

"Upal tersebut terdiri pecahan nominal Rp 100 ribu sebanyak 60 lembar dengan total nilainya Rp 6 juta," terang Kapolres Sukoharjo, AKBP Iwan Saktiadi kepada hariankota.com saat rilis di Mapolres setempat, Kamis (28/2/2019).

Kepada petugas, tersangka S mengaku, bahwa upal didapat dari seseorang berinisial I warga Bangsri, Jepara terkait cicilan pembayaran dari hutang sebesar Rp 50 juta. Sebelum diketahui palsu, upal oleh tersangka S akan disetorkan secara tunai melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM) salah satu bank. Namun karena palsu maka tidak bisa diterima.

"Mengetahui upal tidak bisa disetorkan tunai melalui ATM, bukannya dilaporkan tapi oleh tersangka upal tersebut tetap disimpan dan dikuasai,” jelas Kapolres.

Berdasarkan hal itu, tersangka S dijerat dengan Pasal 36 ayat (2) UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Ia diancam dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp10 miliar.

"Saat ini, untuk mempertanggungjawabkan atas perbuatannya, tersangka sudah ditahan untuk pemeriksaan lebih lanjut," tegas Iwan. Sementara, Deputi Sistem Pembayaran Bank Indonesia Surakarta Bakti Artanta yang dihadirkan dalam rilis membenarkan, jika uang yang dibawa oleh tersangka S adalah uang palsu.

"Kami setelah mendapat informasi dari Polres, langsung menerjunkan petugas untuk melakukan pemeriksaan. Dari indentifikasi yang kami lakukan, uang tersebut memang benar palsu," jelasnya.

Dijelaskan Bakti, secara fisik kertasnya terlihat buram, benang pengaman dan “water mark” yang seharusnya tertanam hanya dicetak. Menurutnya, upal senilai Rp 6 juta ini masuk kategori upal level 1.

"Upal level satu artinya mutu upal tersebut sangat rendah sehingga bisa diidentifikasi melalui 3D (dilihat, diraba, diterawang). Jika upal masuk kategori level 2, cara identifikasinya menggunakan kaca pembesar," tandasnya.

Jurnalis: Sapto Nugroho

Editor: Gunadi

Share this Article :

Berita Terbaru

Read More