Rekomendasi

Dialog Publik, Arah Politik Eks HTI dalam Pemilu dan Pengaruhnya Bagi Generasi Milenial

Rabu, 13 Maret 2019 : 21.16
Published by Hariankota
SOLO - Ratusan peserta mayoritas remaja, representasi golongan milenial mengikuti dialog publik yang digelar Himpunan Aktivis Milenial Indonesia (HAMI) di Warung Mbak Yun, Jalan Cipto Mangunkusumo, Banjarsari, Solo, Rabu (13/3/2019).

Menghadirkan dua narasumber, Muhammad Mustafid, pengasuh Ponpes Aswaja Nusantara Yogyakarta dan Muhammad Yaser Arafat, dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dialog membahas kiprah politik eks anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam kontestasi Pemilu 2019 pasca dilarang oleh pemerintah, hingga pengaruh ideologinya terhadap generasi milenial.

Spirit munculnya gerakan menghidupkan kembali ideologi negara Khilafah dikhawatirkan oleh HAMI bakal mengemuka mengingat saat ini terbuka peluang bagi eks HTI dengan jalan menyusup bergabung ke kubu Prabowo Subianto, atau kubu oposisi.

"Sebagai pembicara, saya tidak mewakili panitia hanya bicara soal eks HTI saja, tapi lebih luas lagi tentang konsep Islamisme yang mengancam republik ini," kata Mustafid kepada hariankota.com disela acara dialog.

Menurut Mustafid, untuk mencegah berkembangnya konsep Islamisme yang mengarah pada paham radikal, serta penyimpangan makna Khilafah maka pola dakwah yang selama ini digunakan harus diubah, tidak lagi menggunakan cara analog.

"Perlu melakukan tranformasi dakwah, dari analog ke era digital. Soal bagaimana caranya menggunakan teknologi IT, itulah yang menjadi tantangan besarnya. Harus lebih kreatif," ujarnya.

Sementara, Muhammad Yaser Arafat yang juga pakar kajian Islam Studies menyampaikan, apa yang dirasakan generasi milenial saat ini, sama dengan generasi tahun 60 an ketika masuknya musik rock'n roll. Ada nilai - nilai baru yang masuk ke Indonesia kala itu.

"Anak - anak milenial ini keinginannya selalu mencari nilai - nilai baru. Hanya saja perbedaannya dengan jaman dulu adalah cara menawarkannya. Sekarang nilai - nilai baru itu berupa Islamisme yang dangkal, atau radikal," sebutnya.

Oleh karenanya, Yaser berpendapat, agar generasi milenial ini tak mudah disusupi Islamisme, Khilafahisme maka diperlukan penerjemahan bahasa - bahasa agama yang khas milenial namun tidak dangkal dalam penyampaiannya.

Jurnalis: Sapto Nugroho

Editor: Jumali

Share this Article :

Video Presiden Jokowi Bersama Keluarga Masuk ke Dalam Ka'bah Saat Ibadah Umroh

Berita Terbaru

Read More