Rekomendasi

Dibalik Tarian Sintren Khas Cirebon Penuh Sindiran

Sabtu, 30 Maret 2019 : 15.30
Published by Hariankota
KESENIAN tradisonal warisan nusantara seakan mulai tergerus oleh perkembangan zaman yang serba modern. Banyak orang yang mulai cuek dengan budaya bangsanya sendiri, bahkan karena dianggap kuno.

Padahal, seni dan budaya adalah identitas sesungguhnya sekaligus mencerminkan jatidiri bangsa itu sendiri. Kepedulian masyarakat sangat diperlukan untuk menjaga dan melestarikan kesenian nusantara.

Salah seorang warga Kota Cirebon, Muhammad Jufri mengaku miris dengan kondisi saat ini. Seperti yang terjadi pada kesenian sintren di daerahnya yang sudah mulai langka.

Masyarakat kata dia, jangan hanya ingin sekadar menonton sintren. Namun, juga sejatinya berusaha melestarikannya dengan cara menjadi 'pelaku' yang menggeluti kesenian sintren itu sendiri.

"Zaman ini sekarang sudah canggih. Jangan cuma dinikmati, tapi dilestarikan. Kita lestarikan semampu kita, sekreatif kita. Kalau bisa ya belajar (langsung) kesenian sintren. Tapi kalau tidak, bisa dengan cara lain seperti mengabadikannya menggunakan handphone (untuk dipelajari)," kata Jufri kepada hariankota.com.

Jufri sendiri tidak menampik, jika kemajuan teknologi saat ini secara perlahan tapi masif mulai menggerogoti perhatian generasi muda, terhadap eksistensi kesenian sintren di Cirebon.

"Hanya mengingatkan saja, seharusnya kita sebagai anak muda Cirebon harus bangga, karena kita punya kesenian dan tradisi yang begitu banyak. Salah satunya ya sintren yang harus dilestarikan," ujarnya.

Menurut informasi yang dirangkum dari berbagai sumber, nama sintren sendiri berasal dari dua suku kata, yakni kata sindir dan tetaren. Dua kata tersebut memiliki arti, menyindir menggunakan syair-syair sajak.

Awalnya kegitan, ini merupakan aktivitas pemuda, yang saling bercerita dan memberikan semangat satu sama lain, khususnya, setelah kekalahan besar pada perang Besar Cirebon yang berakhir sekitar tahun 1818.

Ada juga yang menyebut, kalau kata sintren berasal dari dua kata si dan tren, yang artinya adalah 'ia putri', maknanya sebenarnya yaitu, yang menari bukan lah si penari sintren, tapi roh seorang putri.

Dalam versi ini, sintren sendiri mengisahkan, soal kisah percintaan Ki Joko Bahu dengan Rantamsari, yang tidak disetujui oleh Sultan Agung, sang Raja Mataram. Kemudian, karena tak diberi restu, akhirnya Ki Joko Bahu dan Rantamsari dipisahkan.

Saat hendak dipisahkan, tersiar kabar jika Ki Joko Bahu meninggal. Akan tetapi, Rantamsari tetap mencari kekasihnya dengan menyamar sebagai penari sintren, karena merasa tidak percaya.

Kesenian sintren pun hingga kini masih tetap lestari dan kerap dipertunjukkan di kampung-kampung saat acara tertentu seperti hajatan pernikahan, khitanan dan sebagainya.

Jurnalis: Wawan Darmawan

Editor: Jumali

Share this Article :