Rekomendasi

F-PKS Kupas Masalah Dunia Pendidikan di DIY

Senin, 18 Maret 2019 : 23.23
Published by Hariankota
YOGYAKARTA - Mendapat predikat Kota Pelajar, Pemda DIY memiliki cita-cita agar di tahun 2025 nanti, Yogyakarta sebagai pusat pendidikan terkemuka di Asia Tenggara.

"Kalau ingin bangun pendidikan terkemuka di Asia Tenggara, yang perlu kita bangun itu adalah mutu," kata Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga DIY, Kadarmanta Baskoro Aji, Senin (18/3/2019).

Hal itu disampaikan saat menjadi pembicara dalam telah kritis dunia pendidikan di DIY yang digelar Fraksi PKS DPRD DIY di Gedung DPRD DIY, Jalan Malioboro, Yogyakarta, siang tadi.

Baskoro memaparkan kondisi riel yang dihadapi saat ini. Termasuk dalam kualitas pendidikan, dipengaruhi oleh sumber daya manusia. Begitu juga dari sisi tenaga pendidik, keberadaan guru saat ini lebih banyak non PNS dari PNS. Masalah kesejahteraan, keduanya cukup mencolok perbedaannya.

"Banyak guru PNS sudah cukup dalam hal kesejahteraan. Untuk non PNS ada yang cukup, kalau ada yang cukup artinya banyak yang belum cukup," katanya. Dari sisi kualifikasi, sebagian besar guru di DIY sudah S1.

Ada juga tidak sesuai kompetensi dari sisi regulasi, namun dalam pelaksanaan, mampu mengajar sesuai yang diharapkan. Peningkatan mutu pendidikan, juga dipengaruhi sarana dan prasarana pendidikan.

Ia mengaku dari sarana dan prasarana, masih ada SMK yang kekurangan fasilitas pendukung seperti labolatorium. "Termasuk mengenai pendanaan, saat ini ada kecendrungan orang tua enggan membiayai anaknya belajar. Itu karena mengetahui adanya peningkatan anggaran pendidikan dari APBD," katanya.

Semakin besar anggaran pendidikan, maka semakin sedikit sumbangan dari masyarakat. Sehingga sekolah tidak ada tambahan dukungan, sama seperti sebelumnya.

Ia mendorong adanya prioritas anggaran untuk peningkatan kualitas pendidikan agar harapan Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan Terkemuka se Asia Tenggara bisa terwujud. Harus ada prioritas yang perlu dibenahi dalam masalah pendidikan di DIY yang kompleks ini.

"Apa yang musti kita prioritasakan, apa kita perlu genjot kesejelahteraan guru sebab ada kajian 60 persen keberhasilan di kelas karena faktor guru, sarana prasarana, atau lainnya," katanya.

Kalau tidak ada prioritas, Baskoro menyampaikan visi dan cita-cita Yogyakarta sebagai pusat pendidikan terkemuka se Asia Tenggara, hanya angan-angan belaka. Pakar Pendidikan, Prof. Dr. Ki Supriyoko menyampaikan lima dasar pendidikan di DIY. Mulai dari keberadaan keraton, pesantren, muhammadiyah, tamansiswa dan pendidikan non muslim.

Keraton memberikan pengaruh nilai - nilai budaya, pesantren berpengaruh dalam pembentukan pendidikan karakter. Begitu juga muhammadiyah yang memiliki semangat ijtihad (pembaruan) dan Tamansiswa yang berbasis kerakyatan serta pola pendidikan untuk non muslim.

"Lima hal itu yang mendasari pendidikan di DIY. Tetapi belum dirumuskan konkretnya seperti apa," kata Pimpinan Ponpes yang juga Pengajar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta ini.

Ia memaparkan pendidikan di DIY dapat di kerucutkan dalam dua hal yaitu pembentukan karakter dan berbudi halus. "Bisa ga kita kesitu, kalau bisa itu akan mewarnai pendidikan di DIY. Dikaitkan dengan era industri 4.0. Nah, di Jepang sudah 5.0, yang bikin 5.0 adalah soal karakter," katanya.

Pola endidikan di DIY juga perlu disesuaikan dengan pesatnya perkembangan informasi teknologi. Pengaruh digital saat ini dapat dikelompokkan dalam dua hal yaitu era digital native dan era digital imigran.

"Digital native yaitu anak yang sejak lahir sudah dikelilingi IT. Sedangkan digital imigran yaitu mengetahui digital setelah usia dewasa ataupun sudah tua. Ada problem praktis, di era digital ini banyak guru tidak secanggih anak- anak didiknya," terangnya.

Sementara Ketua DPW PKS DIY Darul Falah mengurai dunia pendidikan di DIY yang memiliki SMA /SMK sebanyak 101 Negeri dan 124 swasta. Berdiri juga delapan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), 106 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terdiri 19 universitas, 5 institut, 41 akademi, 7 poltek dan 34 sekolah tinggi.

Dari sebaran kampus tersebut ada 298.000 mahasiswa dengan pengeluaran Rp600 Milyar/bulan atau 7,2 Triliun / tahun. Hanya saja, diantara masalah pendidikan di DIY adalah belum ada ciri khas. "Kita mendorong kualitas pendidikan di DIY mampu memembentuk anak didik yang berkarakter," jelasnya.

Falah yang juga duduk di Komisi D DPRD Sleman tersebut juga berpandangan agar dalam memajukan pendidikan di DIY dapat melibatkan seluruh unsur baik pemerintah kabupaten / kota serta pihak swasta.

Salah satunya ia mendorong pada 2030 seluruh anak di DIY punya kesempatan mengakses pendidikan hingga di bangku perkuliahan.

Kegiatan diskusi F-PKS tersebut merupakan putaran pertama. Hadir Ketua F-PKS DPRF DIY Agus Murtono beserta para anggota fraksi seperti Huda Tri Yudayana, Arief Budiyono, Nandar Winoro, Nur Sasmita serta perwakilan anggota F - PKS dari DPRD Bantul dan DPRD Kota Yogyakarta.

Jurnalis: Danang Prabowo

Editor: Gunadi

Share this Article :

Video Presiden Jokowi Bersama Keluarga Masuk ke Dalam Ka'bah Saat Ibadah Umroh

Berita Terbaru

Read More

Our Partners