Rekomendasi

Kuda Lumping, Warisan Budaya yang Harus Dilestarikan

Sabtu, 30 Maret 2019 : 16.30
Published by Hariankota
KESENIAN kuda lumping atau yang juga dikenal dengan Jaran Kepang, merupakan salah satu kesenian tradisional jawa tengah.

Kesenian yang menggunakan kuda bohong-bohongan yang terbuat dari anyaman bambu ini, merupkan salah satu warisan para leluhur sejak ratusan tahun yang lalu dan terus bertahan hingga saat ini.

Tarian kuda lumping ini, selalu diiringi dengan music gamelan, gong, kendang dan slompret dan bergerak tanpa pola serta memiliki kekuatan supranatural.

Menurut sejarah, kesenian tradisional ini, lahir sebagai simbolisasi bahwa rakyat juga memiliki kemampuan (kedigdayaan) dalam menghadapi penjajah atau melawan kekuatan elite kerajaan yang memiliki pasukan perang.

Ari Kuntarto, praktisi seni dan pemerhati budaya yang juga, staf di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Karanganyar, kepada hariankota.com, Jumat (28/03/2019) mengatakan, kesenian kuda, awalnya tumbuh di kawasan lereng Merapi, tepatnya di Magelang dan Boyolali.

Tari Kuda Lumping ini, sejatinya, menurut Ari, menceritakan perjuangan Aryo Penangsang melawan penjajah.

“Kesenian Kida Lumping ini, awalnya berkembang di kawasan lereng merapai yang menggambarkan tentang perjuangan Arya Penangsang ketika mengusir penjajah,” kata Ari.

Kesenian ini terus berkembang. Untuk menambah daya tarik, diselipkan adegan mistis, sehingga penari Kuda Lumping seperti memiliki sebuah kekuatan supranatural.

“Awalnya memang menceritakan perjuangan Arya Penangsang. Agar pertunjukan Kuda Lumping ini semakin menarik, maka diselipkan adegan mistis, sehingga pertunjukan semakin menarik. Intinya, mistis ini hanya sekedar bumbu. Adegan mistis ini juga didampingi oleh seorang pawang yang mengendalikan penari Kuda Lumping dari pengaruh mistis,” ujarnya.

Kesenian yang merupakan warisan dari para leluhur ini, jelas Ari, tidak hanya sekedar hiburan semata, namun mengandung nilai-nilai perjuangan dan filosofis, sehingga keberadaan kesenian ini, haraus terus dilestarikan.

“Kesenian ini harus dilestarikan, terutama bagi generasi milenial yang saat ini mulai terpengaruh dengan budaya asing. Kesenian ada nilai edukasi di dalamnya yang menggambarkan nilai-nilai perjuangan,” jelasnya.

Sementara itu, Irfan Samudera, salah satu penasehat Grup Reog dan Kuda Lumping, Janur Kuning, mengatakan, awalnya dia hanya sebagai penikmat. Namun karena dekat dengan sesepuh dan pelopor berdirnya Janur Kuning, maka dia langsung ikut bergabung.

“Awalnya grup ini sedang melakukan pertunjukan di satu tempat dan terjadi kesurupan massal. Saya ikut membantu. Dari sinilah awalnya saya aktif di kesenian ini, sampai sekarang,” kata dia.

Dijelaskannya, filosofis jaran kepang yang dipakai ini adalah unsur ketika langkah manusia yang meluncur dari 4 kiblat 5 panjer. Kemanapun dia berjalan, akan kembai ke panjernya. Ini menunjukkan bahwa setinggi apapun manusia, sejauh apapun dia berjalan, dia akan kembali kepada sang Khalik an tidak bisa lari dari pada Nya.

Irfan Samudera juga mengungkapkan, kesenian ini kental dengan suasana mistis. Menurutnya, mistis ini sebenarnya berkaitan dengan stigma masyarakat.

“Kenapa kental dengan suasan mistis? Sebenarnya hal ini berkaitan dengan stigma seseorang. Untuk dapat masuk ke suasana mistis, memang ada ritual kecil, seporti, memakan kembang, meminum aroma wangi dan malam sebelum tampil, ada ritual kecil yang disitu kita masuk ke aroma mistis.

Ketika mistis kita mainkan, tidak ada sangkut pautnya dengan jin yang ada di dalamnya. Ritual ini adalah untuk pensucian diri. Ketika kita masuk ke sang Khalik, maka dibutuhkan satu ritual agar bisa masuk kearah sana, kita melepaskan duniawi, dengan penuh ketenangan dan keyakinan,” jelasnya.

Dijelaskannya, ketika masuk ke suasana mistis, tidak melibatkan mereka, namun lebih menghargai keberadaan mereka.

Ritual yang kita lakukan sebelum bermain, lanjutnya untuk meminta berkah kepada sang kuasa, minta ijin ke penguasa, saat akan melakukan pentas dan mohon keselamatan para pemain, keamanan ketika bermaian dan tidak terjadi sesuatu apapun saat bermain.

“Karena yang kita pakai adalah salah satu hal yang memang bersinggungan dengan mereka. Prinsipnya kita tidak menggunakan jin. Kalau menggunakan jin, kita bersekutu dengan mereka, tapi kalau pakai ritual, kita menghargai mereka,” kata dia.

Irfan bertekad akan terus melestarikan budaya warisan leluhur ini, terutama kepada generasi muda. Ada, kekhawatiran dalam dirinya, ketika generasi muda tidak lagi tertarik dengan yang bebau mistis.

"Ini terus kembangkan, seluruh pemain anak muda. Ini kecenderungan untuk lestariakan budaya yang dikemas dengan seni. Tidak ada musrik disini. Ini nilai luhur yang tidak tersurat,” tandasnya.

Terpisah, salah satu warga Karanganayar, Aan Sopuanuddin, mengatakan, bahwa kesenian tradisional Kuda Lumping ini, merupakan peninggalan dan warisan leluhur yang terus mengalami perkembangan. Saat ini, menurut Aan, kesenian ini, dipadukan antara musik modern, reog dan kuda lumping

"Saya melihat bukan dari sudut pandang negatif. tapi ini bentuk kreatifitas. Kreasi yang memang selalu harus kita jaga dan lestarikan. Kalau hilang tidak mungkin, tapi saya yakin, kesenian akan terus berkembang dengan berbagai inovasi,” ujarnya.

Salah satu tokoh agama di Karanganyar, Sri Hartono, mengakui bahwa Indonesia kaya akan nilai-nilai tradisional. Prisnsipnya, dalam agama Islam tdak menafikkan adanya nilai-nilai dalam kebudayaan tradisional. Hanya saja, yang dilarang adalah unsur-unsur yang mengandung kmusrikan dalam kesenian tersebut.

“Saya tidak bisa menunjuk kesenian tertentu. Kita mengakui bahwa Indonesia kaya akan budaya dan nilai-nilai tradisional. Hanya saja jika ada unsur-unsur kmusrikan dalam kesenian, maka itu yang dilarang dan harus dihindari,” ujarnya singkat.

Jurnalis: Iwan Iswanda

Editor: Jumali

Share this Article :

Video Presiden Jokowi Bersama Keluarga Masuk ke Dalam Ka'bah Saat Ibadah Umroh

Berita Terbaru

Read More

Our Partners