Rekomendasi

Magis Lukah Gilo, Tradisi Unik asal Tanah Minang

Sabtu, 30 Maret 2019 : 12.30
Published by Hariankota
DUA pria terlihat tengah berjongkok sambil memegang anyaman bambu yang dibentuk menyerupai separuh badan manusia. Boneka bambu berbalut kain dua warna itu disebutnya 'lukah gilo'.

Adalah khulifa alias pawang yang berperan "menghidupkan" boneka itu untuk kemudian beraksi di hadapan pengunjung. Sang pawang kemudian memulai aksinya dengan membacakan mantra-mantra seperti membisikkan sesuatu kepada si boneka.

Sejurus kemudian, ia menjentikkan jarinya di atas boneka tersebut. Syair-syair berbahasa Minang lantas dilantunkan dengan irama yang indah. Suasana magis pun kian terasa di Desa Taratak Bancah, Kecamatan Silungkang, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat (Sumbar).

Aroma mistis kian kental begitu alat musik talempong dan gendang berbahan kulit sapi mulai ditabuh.

Tak lama sesaat setelah sang pawang membaca mantra, lukah gilo yang dipegang oleh kedua pria tadi mulai bergoyang ke kanan dan ke kiri secara perlahan. Semakin lama, luka gilo kian kuat hentakannya hingga sulit dikendalikan.

Beberapa orang nampak berusaha memegangi kedua pria itu. Salah satu pemegang lukah gilo itu bahkan jarinya sampai terluka saking kuatnya menahan dorongan boneka bambu itu.

"Seru sekali, waktu KKN saya di daerah itu sering melakukan atraksi, saya pernah memegang lukah tersebut tidak bisa kita mengendalikannya kuat sekali tarikan dan menahannya juga kita terseret-seret,” kata Muhammad Ichsan (22), salah seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas, berbagi pengalamannya tentang atraksi lukah gilo kepada hariankota.com, belum lama ini.

Menurut Ichsan, yang bisa menguasai atau menghentikan goyangan lukah gilo adalah si pawang, bukan orang yang memeganginya. Meski sekilas setelah dibaluti pakaian tampak seperti boneka, lukah ini sebenarnya adalah alat perangkap ikan di sungai.

Ia berbentuk menyerupai kerucut panjang, bahan dasarnya dari bambu dan rotan yang sudah dianyam rapi. Sementara kata 'gilo' disematkan seolah bambu itu menggila akibat kerasukan roh halus usai dimantrai.

Terkait keseniah lukah gilo ini, Ketua Kelompok Kesenian Mambat di Nagari Taruang-Taruang, Kecamatan IX Koto Sungai Lasi, Kabupaten Solok, Natarsan (52) mengaku sering melakukan atraksi lukah gilo. Setiap acara adat baik pemberian gelar datuak, maupun acara pernikahan pertunjukan ini lazim dijumpai.

"Lukah gilo ini merupakan atraksi budaya untuk hiburan, kalau dulu itu penyebaran agama atraksi ini sering dilakukan,” ujar Natarsan.

Meski yang dipakai itu lukah atau alat penangkap ikan, namun tetap saja bukan digunakan nuntuk menangkap ikan. "Beda itu, kalau lukah untuk menangkap ikan ya dipakai untuk menangkap ikan. Tapi, kalau lukah untuk hiburan tidak bisa dipakai untuk menangkap ikan," kata dia.

Bahan untuk membuat lukah ini, biasanya diambil dari hutan. Bahan utamanya ialah mamban, yakni sejenis rotan yang memiliki ruas setengah meter sampai satu meter. Setelah dikupas kulitnya, bagian dalamnya yang berbahan lunak dibuang. Sedangkan rotan berfungsi sebagai pengikat yang dibentuk melingkar.

“Terlebih dahulu kita keringkan dulu, kalau sudah kering baru kita buat lukah itu. Untuk panjangnya tergantung kita saja ada satu meter ada juga dua meter. Saat membuat lukah itu tidak ada ritual atau pantangan-pantangan lainnya,” ucap Natarsan.

Dia melanjutkan, saat memulai atraksi lukah gilo, lukah yang sudah dibentuk itu pada bagian atasnya dipasangi labu kecil, atau batok kelapa (seperti kepala manusia). Kemudian diberi kayu melintang di lukah sebagai tangan, baru kemudian dibaluti pakaian.

Untuk mengawali permainan, lukah bisa dipegang dua orang. Namun, jika goyangannya sudah semakin kuat bisa ditambah tiga orang atau lebih.

Natarsam menyebut, khulifa atau pawang adalah kunci dari permainan lukah gilo. Setelah membaca mantra dan syair berbahasa Minang, lukah gilo mulai beraksi dan lama-kelamaan semakin 'menggila'.

"Jika dorongannya kuat, itu tandanya lukah sudah marah, karena saat menyanyikan lagu itu menyinggung asal usul lukah tersebut yang hanya terbuat dari rotan,” ujarnya. Saat ditanya apakah lukah gilo sama seperti permainan jelangkung, Natarsan dengan tegas membantahnya.

"Jelangkung itu kan merusak kita, kadang roh itu masuk ke dalam tubuh manusia, begitu juga kuda lumping. Itu jin merasuki tubuh kita, tapi kalau lukah gilo ini, jin itu masuk ke dalam lukah tersebut,” tuturnya.

Jurnalis: Khafid M

Editor: Jumali

Share this Article :

Video Presiden Jokowi Bersama Keluarga Masuk ke Dalam Ka'bah Saat Ibadah Umroh

Berita Terbaru

Read More

Our Partners