Rekomendasi

Senator DIY Tampung Uneg-uneg Para Lurah Kota Yogyakarta

Selasa, 05 Maret 2019 : 18.59
Published by Hariankota
YOGYAKARTA - Kucuran dana kelurahan menjadi berkah, tapi juga jadi beban para lurah. Sebab, beban lurah yang merupakan Pegawai Negeri Sipil itu bertambah seiring dengan pencairan dana tersebut.

Jika tidak hati-hati dalam penggunaan, bisa menjadi bumerang pada lurah. Karena penggunaan, pelaporan, hingga pada akhirnya tetap harus dipertanggungjawabkan.

"Ada lurah yang sampai sakit karena banyak memikirkan dana kelurahan," kata Dian Wulandari, Lurah Pakuncen, Wirobrajan, Kota Yogyakarta, Selasa (5/3/2019).

Hal itu disampaikan dalam Rapat Kerja Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI bersama Pemerintah Kota Yogyakarta tentang Dana Bantuan Kelurahan di Kantor DPD RI Yogyakarta.

Rapat yang diinisiatori Anggota Komite IV DPD RI H. Cholid Mahmud M.T itu dihadiri para camat, lurah se Kota Yogyakarta serta dinas terkait Pemkot Yogyakarta.

"Mungkin juga faktor lain, karena kondisinya tidak enak, cuaca juga bisa. Tapi memang adanya dana kelurahan jadi beban pikiran tersendiri," imbuh Dian yang tak ingin membeberkan nama lurah yang sakit tersebut.

Dalam rapat itu, para lurah menyampaikan pandangannya. Mengingat, mereka yang merupakan ujung tombak dalam mengelola dana kelurahan itu.

Secara umum, dana kelurahan itu menjadi beban psikologis para lurah. Kegiatan belum berjalan, tapi pihak kelurahan banyak menerima proposal dari banyak perusahaan yang ingin mengerjakan pembangunan fisik dengan dana kelurahan itu.

Cholid mengaku para lurah harus ekstra hati-hati dalam menggunakan dana itu. Apalagi, jumlah personel di Kelurahan sangat terbatas, sekira lima orang pegawai yang selama ini sudah menangani administrasi dana APBD, juga dana LPMK dan Kampung.

Senator asal DIY ini akan menyampaikan masalah para lurah tersebut dalam forum rapat kerja dengan pemerintah pusat dan DPR RI. Sebab, petunjuk teknis Dana Kelurahan belun ada, sehingga masih menjadi perbincangan para lurah.

"Kami harap petunjuk dan teknisnya selesai sebelum dana dicairkan. Karena petunjuk itu sebagai pedoman para lurah melaksanakan tugas," tandasnya.

Cholid bercerita dana desa yang awalnya menjadi momok pada Kepala Desa. Namun, setelah berjalan, justru banyak yang ingin menaikan anggaran dana desa tersebut.

"Seperti orang menikah yang deg-degan (berdebar-debar,red), setelah menikah kok engak dari dulu," katanya sambil bercanda.

Jurnalis: Prabowo

Editor: Gunadi

Share this Article :

Video Presiden Jokowi Bersama Keluarga Masuk ke Dalam Ka'bah Saat Ibadah Umroh

Berita Terbaru

Read More