Rekomendasi

Terabaikan, Kaum Minenial Tak Kenal Mocopat

Kamis, 21 Maret 2019 : 19.30
Published by Hariankota
YOGYAKARTA - Mocopat merupakan kesenian peningalan Walisanga yang kurang familier dikalangan anak muda. Apalagi, generasi milenial saat ini yang sebagian besar tak kenal dengan tembang-tembang mocopat.

Sesepuh Paguyuban Mocopat Yogyakarta, Sarbini Sosrodiprodjo mengakui khawatir kesenian ini akan hilang ditelan waktu. Sebab, hingga saat ini banyak yang merasa asing dengan mocopat.

"Banyak kendala mocopat kurang berkembang, misalnya anggaran dan regenerasi," katanya disela Sarasehan Budaya Jawa dan Pagelaran Mocopat di Gedung DPD RI Perwakilan DIY, Kamis (21/3/2019).

Padahal, kata dia, untuk Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendapat anggaran khusus dalam pengembangan kebudayaan dari pemerintah pusat, yakni Dana Keistimewaan. Menurutnya, danais belum memberi kontribusi signifikan terhadap macapat.

"Beda dengan pagelaran wayang kulit atau beksan. Wayang kulit dan beksan sudah beberapa kali manggung di luar negeri. Tapi kalau macapat belum," katanya. Padahal, wayang kulit dan beksan serta macapat, sama-sama warisan leluhur.

Para Walisanga saat siar Islam di Tanah Jawa menggunakan kesenian itu agar mudah diterima masyarakat. "Tolonglah itu, mbok yao kesenian mocopat itu juga diperhatikan. Kita sudah ngoprak-oprak, mendorong Dinas Kebudayaan lho agar mocopat juga diperhatikan," katanya.

Ia menekuni macapat sejak puluhan tahun silam. Budayawan Emha Ainun Najib merupakan salah satu muridnya dalam bermacapat. Dia merintis mendirikan paguyuban macapat dari nol. "Sleman dan Kota Yogyakarta sudah terbentuk. Kita akan membentuknya di Bantul, Gunungkidul dan Kulonprogo," jelasnya.

Perlahan-lahan puluhan dosen ikut bergabung dalam paguyuban macapat. Namun, untuk kaderisasi atau regenerasi di kalangan pemuda masih sangat terbatas. "Paguyuban macapat itu anggotanya 70 persen tiyang sepuh (orang tua). Perlu regenerasi agar macapat tidak hilang," pintanya.

Dalan literatur, mocopat merupakan tembang atau puisi tradisional Jawa. Namun macapat dengan nama lain juga bisa ditemukan dalam kebudayaan Bali, Sasak, Madura, Sunda, Palembang dan Banjarmasin.

Mocopat diperkirakan muncul pada akhir Majapahit dan dimulainya pengaruh Walisanga terutama di Jawa. Walisanga menggunakan kesenian termasuk kesenian untuk siar Islam. Namun di Jawa Timur dan Bali mocopat telah dikenal sebelum datangnya Islam.

Di Jawa, mocopat memiliki metrum yang lebih pakem. Beberapa jenis tembang atau lagu macapat antara lain Maskumambang, Sinom, Asmaradana, Kinanthi, Gambuh, Pangkur, Durma, Mijil, Magetruh, Pucung, Jurudemung, Wirangrong, Balabak, Girisa dan lainnya.

Anggota DPD RI Cholid Mahmud mengatakan, selama ini ada anggapan macapat berseberangan dengan Islam. Menurutnya, anggapan itu kurang tepat.

"Saya jawab tidak (tidak bersebarangan). Justru Walisanga saat siar Islam di Jawa menggunakan pendekatan kesenian, termasuk mocopat," kata dia. Menurut dia, dalam ajaran Islam atau agama mana pun, hal yang buruk yang dilarang. Hal yang baik yang dianjurkan. "Nah, mocopat tidak ada yang buruk," imbuhnya.

Justru, kata Cholid, mocopat mengandung pesan moral maupun falsafah hidup yang baik dalam berkehidupan. Kata-kata yang ada di dalam macapat menjadi piweling (mengingatkan), pitutur (menasehati) dan piwulang (mengajarkan) tentang bagaimana manusia menjalani hidup.

Jurnalis: Danang Prabowo

Editor: Rahayu

Share this Article :

Berita Terbaru

Read More