Rekomendasi

Berdayakan Petani Binaan, UMS Luncurkan Program Konsumsi Beras Sehat

Sabtu, 27 April 2019 : 19.47
Published by Hariankota
SUKOHARJO - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) meluncurkan program kerjasama dimulainya penggunaan konsumsi beras sehat hasil budidaya Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) dari Sragen dengan penandatanganan MoU.

"Ini merupakan kerjasama antara kampus dengan petani binaan yang sudah dirintis sejak lama. Hanya saja momennya (MoU) baru bisa dilakukan sekarang," terang Wakil Rektor II UMS, Sarjito kepada hariankota.com dan awak media lain saat peluncuran program di Gedung Induk Siti Walidah kampus setempat, Sabtu (27/4/2019).

Dalam acara yang juga dihadiri salah satu Ketua PP Muhammadiyah, Dahlan Rais ini, Sarjito menyampaikan, program pembelian beras sehat merupakan upaya UMS memberdayakan para petani binaannya yang. merupakan bagian dari sinergi dengan lembaga - lembaga lain dilingkungan Muhammadiyah.

Nantinya, beras hasil panen petani ini secara rutin tiap bulan akan dipasok ke kampus untuk selanjutnya didistribusikan kepada karyawan dan dosen sebagai bentuk tunjangan kenaikan gaji dimana angkanya pada tahun ini mencapai 5 persen.

"Jadi, tunjangan kepada karyawan dan dosen yang biasanya berupa uang, sekarang diwujudkan dalam bentuk beras. Memang beras ini tidak murni organik, tapi pengelolaannya saat proses tanam secara organik. Dengan kata lain ini adalah beras semi organik," jelasnya.

Sementara salah satu anggota JATAM yang juga Ketua Kelompok Tani Ranting Blimbing, Sambirejo, Sragen, Arif Munawar Efendi mengatakan, pihaknya sangat berterima kasih dengan adanya kerjasama melalui MoU pembelian beras secara rutin ini.

"Bulan lalu sebenarnya kami sudah memasok 4 ton beras ke UMS. Dan ini merupakan beras premium yang di hasilkan oleh para petani binaan Lembaga Usaha Kelompok Unggul (LUKU) dan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP. Muhammadiyah," ungkapnya.

JATAM disebutkan Arif, terbentuk berawal dari permasalahan yang dihadapi petani tentang carut marutnya tata kelola pangan dimana setiap musim tanam, pupuk selalu sulit didapat, dan kalaupun ada, harganya mahal.

"Belum lagi ketika musim panen tiba, harga gabah jatuh lantaran diserbu beras impor. Sebenarnya kondisi pertanian kita itu bisa swasembada jika rantai birokrasinya dapat dipangkas," pungkasnya.

Jurnalis: Sapto Nugroho

Editor: Rahayu

Share this Article :

Berita Terbaru

Read More