Rekomendasi

Tari Bedoyo Sukomulyo Keraton Kasunanan Pukau World Dance Day

Selasa, 30 April 2019 : 17.49
Published by Hariankota
SOLO - Suasana mistis tersaji saat gemulai sembilan perempuan abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta membawakan Tari Bedoyo Sukomulyo dengan iringan tabuhan gamelan Jawa dalam peringatan World Dance Day Solo Menari di pendopo kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Ribuan pasang mata penonton yang berkesempatan hadir memenuhi lokasi, larut menikmati gerakan demi gerakan penuh makna dari tarian yang jarang bisa dilihat disembarang acara ini.

Tari Bedoyo Sukomulyo, begitu nama yang disebutkan sang penciptanya yakni, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari akrab dipanggil Gusti Mung, karena gending atau tembang yang digunakan mengiringi adalah gending Jawa berjudul Sukomulyo.

“Untuk tari ini dalam penyajiannya memakan waktu sekira 26 menit dengan 'cakepan' (syair-red) berisi kata – kata bijak nasehat dari sinuwun,” kata Gusti Mung.

Ini berbeda dengan Tari Bedoyo Ketawang yang hampir 2 jam lebih saat dipentasakan, dan itupun terbatas pada acara Jumenengan (penobatan) dan peringatan kenaikan tahta Raja Keraton Kasunanan Surakarta saja.

Sebagai putri raja keraton (PB XII -Red) yang pertama kali membawakan Tari Bedoyo Ketawang, Gusti Mung mengungkapkan, Tari Bedoyo Sukomulya ia ciptakan atas izin dari Ayahandanya pada tahun 2002.

Saat itu ia masih duduk sebagai anggota legislatif di Senayan dari salah satu parpol besar.

"Pada waktu itu menjelang peringatan tumbuk delapan windu saudara sekandung, kami putra - putri sinuwun rapat membahas tentang persembahan untuk acara peringatan tersebut. Karena kebetulan saya yang bertanggung jawab soal tari maka atas ijin beliau saya membuat tari ini," tuturnya mengungkapkan sejarah terciptanya Tari Bedoyo Sukomulyo.

Selain durasi pentasnya lebih singkat, format adegan perang yang biasa melekat dalam sajian Tari Bedoyo, oleh Gusti Mung disebutkan sengaja ditiadakan. Tari Bedoyo Sukomulyo lebih menonjolkan sisi religiusitas dan nasehat kemuliaan kehidupan manusia.

"Ini sesuai keinginan sinuwun pada waktu itu yang disampaikan kepada kami, anak - anaknya. Bahwa hidup itu yang paling utama adalah bagaimana caranya menjaga sikap dan kemuliaan, menjaga warisan budaya. Jadi kemuliaan itu yang selalu harus dijaga," ujarnya.

Mengingat Tari Bedoyo Ketawang tidak bisa dibawakan oleh sembarang penari maka tak heran jika sejak diciptakan tahun 2002, tari ini baru dipentaskan sebanyak 3 kali, di 3 tempat dalam 3 acara, dan salah satunya adalah di World Dance Day ini.

Jurnalis: Sapto Nugroho

Editor: Rahayu

Share this Article :

Berita Terbaru

Read More