Rekomendasi

Begini Tradisi Sakral Kirab Malam Selikuran Kraton Kasunanan

Minggu, 26 Mei 2019 : 04.07
Published by Hariankota
SOLO - Penuh khidmat, ratusan abdi dalem dan sentana dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat melaksanakan tradisi Kirab Hajatdalem Malam Selikuran atau dikenal dengan Kirab Ting (lampu minyak-Red), Sabtu (25/5/2019) malam.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, pada pelaksanaan tahun ini ada 2 kelompok yang sama - sama melaksanakan tradisi yang rutin digelar keraton tiap malam ke-21 dibulan Ramadan.

Meski sama - sama berakhir di Masjid Agung, namun kelompok pertama tidak melakukan kirab keliling kawasan karaton. Sedang kelompok kedua mengelilingi kawasan karaton dengan memulai kirab sesudah kelompok pertama.

Pantauan hariankota.com, rute kirab kelompok kedua yang di prakarsai putra - putri Pakubuwono (PB) XII dan PB XIII ini, diawali dari Sitihinggil kemudian berjalan kaki searah jarum jam melewati pintu Brojonolo, dan selanjutnya memasuki kawasan Baluwarti didalam tembok keraton hingga berakhir di Masjid Agung barat Alun - Alun Utara.

Dengan mengenakan pakaian adat Jawa lengkap, barisan depan kirab seperti biasanya adalah pasukan drumband disusul pasukan keraton bersenjata tradisional lengkap (keris, tombak, dan pedang).

Kemudian pembawa simbol keraton, kelompok hadroh, barisan pembawa nasi tumpeng dengan cara ditandu, pembawa obor minyak, lampu ting, dan tak ketinggalan beberapa lampion dengan berbagai bentuk.

Sesampai di Masjid Agung, nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauk didalamnya serta nasi gurih yang sudah dikemas dengan jumlah ratusan kemudian dibagi – bagikan kepada warga yang hadir. Namun sebelumnya dilakukan do’a terlebih dulu.

Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Koes Murtiyah Wandansari akrab disapa Gusti Mung selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menyampaikan, kirab malam selikuran merupakan salah satu upacara adat yang dilakukan sejak berdirinya kerajaan Mataram menyongsong datangnya malam Lailatul Qadar.

"Alhamdulillah, kami, sentana, abdi dalem trah dari Eyang Amangkurat I sampai Sinuwun PB XIII telah mengadakan wilujengan menyongsong datangnya Lailatul Qadar," katanya usai pelaksanaan kirab.

Disadari saat ini masih ada dua kubu dalam keluarga Keraton Surakarta, melalui momentum Hajatdalem Malam Selikuran ini Gusti Mung berharap kedepan keluarga Keraton Surakarta bisa semakin baik, kembali disatukan dalam keadaan baik.

"Terus yang menjadi pengkianat, ataupun yang membikin keraton kacau bisa diampuni oleh Allah, segera diingatkan, atau kalau nggak, ya disingkirkan dan tidak kembali lagi," tandasnya tanpa menyebut siapa yang dimaksud pengkianat dan pembuat kekacuan.

Jurnalis: Sapto Nugroho

Editor: Rahayu

Share this Article :

Berita Terbaru

Read More