Rekomendasi

Menelisik Masjid Tiban Karanganyar yang Dipercaya Muncul Secara Ajaib

Sabtu, 11 Mei 2019 : 16.02
Published by Hariankota
KARANGANYAR - Masjid Darul Muttaqin, yang berada di Dukuh Pulosari, Desa Kaliboto, Kacamatan Mojogedang, oleh warga sekitar dipercaya sebagai salah satu masjid tertua di Karanganyar.

Hanya saja, tidak diketahui secara pasti, kapan masjid tersebut berdiri. Menurut warga sekitar, masjid tersebut tiba-tiba ada.

Karena keberadaannya yang sangat tiba-tiba tersebut, warga kemudian memberi nama Masjid Tiban.Bahkan, Masjid ini diyakini berusia lebih tua atau seusia dengan Masjid Demak.

Hal ini bisa dilihat dari bentuk mahkota, mimbar serta tiang tengah yang ada di dalamnya, mirip sekali dengan Masjid Agung Demak.

"Kami sendiri tidak mengetahui secara pasti kapan masjid ini berdiri. Keberadaannya sangat tiba-tiba. Oleh warga kemudian diberi nama masjid Tiban. Padahal nama asli Masjid ini adalah Darul Muttaqin," ujar Suparno Adi Mardoyo, sesepuh Masjid, Sabtu (11/05/2019).

Dijelaskannya, Masjid ini memiliki halaman yang cukup luas.Pagar Masjid terlihat seperti gapura dan terbuat dari batu bata.

Menurutnya, hampir semua komponen yang ada di dalam Masjid, masih asli, seperti beduk, mimbar untuk khotbah yang dilengkapi dengan tongkat dan tempat duduk. Empat tiang penyangga (saka) yang terbuat dari kayu jati, menambah kokoh bangunan masjid kuno ini.

"Meski telah beberapa kali direnovasi, interior masjid masih asli. Interior masjid ini tidak memiliki penerangan yang cukup dan berada diantara empat tiang saka setinggi 6 meter. Di atap masjid juga ada 99 usuk. Angka 99 ini memiliki makna Asmaul Husna, yang berarti sifat- sifat Allah," kata dia.

Sementara itu, di belakang Masjid, terdapat 68 makam. Dari 68 makam tersebut, salah satunya terdapat makam Waliyullah Abdullah Fattah yang menurut warga, merupakan pendiri Masjid Darul Muttaqin.

Makam ini berada di bagian Timur Masjid. Sedangkan dibagian Barat Masjid, terdapat makam Tumenggung Wirosari yang oleh warga dianggap sebagai salah satu kerabat keraton Jogjakarta.

“Warga banyak yang datang berziarah ke makam ini, terutama dari luar, seperti dari Jawa Timur dan bahkan ada yang jauh-jauh datang dari Sumatera. Selain berziarah, mereka juga melakukan salat malam di dalam masjid,” tuturnya.

Jurnalis: Iwan Iswanda

Editor: Ferdinan

Share this Article :

Berita Terbaru

Read More