Rekomendasi

Ngurusi Tarif Batas Bawah dan Atas KA, Kemenhub Dinilai Kurang Kerjaan

Minggu, 26 Mei 2019 : 23.39
Published by Hariankota
JAKARTA – Pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio menilai rencana Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkeretapian Kemenhub yang ingin menerapkan tarif batas Bawah (TBB) dan tarif batas Atas (TBA) untuk kereta api kurang kerjaan.

“Kurang kerjaan aja mengurus tarif batas atas dan batas bawah kereta,” tutur Agus Pambagio. “Ngapain dibuat tarif batas atas dan bawah, lha kereta api kan nggak ada saingannya, operatornya Cuma satu.”

Agus khawatir setelah ngurusin tarif batas atas dan bawah pesawat, terus sekarang ngurus tarif batas atas dan bawah kereta api, besok-besok Kemenhub akan mengatur harga kangkung, dan harga lainnya.

Menurut Agus Pambagio, kebijakan penetapan tarif batas atas dan tarif batas bawah hanya bisa dilakukan jika ada beberapa operator yang bersaing memberikan layanan sejenis, guna menghindari yang kuat menekan yang lemah sehingga yang lemah bangkrut.

Sedangkan kereta api tidak ada pesainginnya operatornya tunggal.

“Kurang tepatlah kalau di KA diterapkan tarif batas atas dan bawah, cocoknya untuk penerbangan yang operator layanan jasa penerbangan tidak hanya satu operator saja, apalagi peta persaingan transportasi kereta api dan pesawat terbang berbeda," ujarnya.

Selain itu, di industri jasa penerbangan ada tiga jenis layanan yang berbeda, mulai dari full service hingga low cost carrier, yang menyebabkan di industri penerbangan terbentuk pasar oligopoli, sedangkan di industri kereta api adalah monopoli.

“Jadi intinya ini bukan tugas pokok fungsinya Kemenhub. Kemenhub kan tugas pokok fungsinya cuma keselamatan di transportasi, malah keselamatan ngga diurus, ngurusin tarif, ini lucu,” kata Agus.

Kemenhub Kaji Tarif KA

Direktur Jenderal Perkerataapian Zulfikri sebelumnya mengungkapkan Kemenhub tengah mengkaji kemungkinan diberlakukannya tarif batas atas dan batas bawah untuk angkutan kereta api dengan alasan ingin kepentingan konsumen dan operator.

”Kita sedang kaji tapi belum tahu kapan selesainya,” ujar Zulfikri.“ Menurut Dirjen, saat ini pemerintah hanya mengatur tarif layanan kereta yang mendapatkan subsidi (PSO). Namun, untuk kereta komersial tarifnya diserahkan pada operator sesuai mekanisme pasar.

Dikatakan dirjen, biasanya, TBB ditetapkan pada hari-hari biasa kerja, sedangkan TBA saat akhir pekan atau libur nasional. Terakhir, TBB dan TBA kereta api penumpang ditetapkan dalam Keputusan Direksi KAI Nomor SK.C/KB.203/IX/2/KA-2018.

Dirjen mencontohkannya, untuk kereta api Argo Parahyangan relasi Jakarta – Bandung TBB ditetapkan Rp110 ribu dan TBA Rp250 ribu per penumpang.

Jurnalis: Ainun

Editor: Jumali

Share this Article :