Rekomendasi

Bakdo Kupat, Tradisi Lebaran Masyarakat Jawa dengan Ketupat Janur Kuning

Selasa, 11 Juni 2019 : 03.27
Published by Hariankota
SOLO - Merayakan Lebaran bagi masyarakat Jawa selain saling bersilaturahmi ke sanak - saudara dan ziarah kubur ke makam leluhur di hari pertama seusai sholat Id, seminggu kemudian juga merayakan Lebaran Ketupat dalam bahasa Jawa disebut "Bakdo Kupat".

Ketupat berisi beras berbungkus daun kelapa atau janur kuning ini biasa disajikan dengan lauk opor ayam dan sayur sambal goreng berisi krupuk kulit sapi. Pada saat hari pertama Idulfitri kuliner khas ini belum disajikan, sesuai tradisi masyarakat Jawa baru seminggu kemudian membuatnya.

Tradisi ini sudah turun temurun di jaga sampai sekarang. Bahkan di pedesaan yang masih kuat memegang adat, ada ritual khusus sebelum merayakan lebaran ketupat dengan melibatkan perangkat desa atau tokoh - tokoh masyarakat setempat.

Makna tradisi lebaran sangat dalam bagi masyarakat Jawa serta mengandung filosofi kehidupan tersendiri. Tujuan sebenarnya adalah sama dengan melaksanakan hari raya Idulfitri yakni, saling memaafkan serta bersilaturahmi yang biasa disebut Halal Bihalal.

Seiring dengan tradisi tersebut, bagi pengrajin kulit ketupat dari janur kuning, setiap Lebaran Ketupat telah menjadi berkah tersendiri bagi mereka. Ada tambahan pendapatan untuk menghidupi keluarga dari kepiawaiannya menganyam janur kuning menjadi kulit ketupat.

Ngatmi (50), warga Desa Pondok, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo adalah salah satu dari puluhan pengrajin yang menangguk berkah itu dengan menjajakan bungkus ketupat di pinggir jalan Veteran Solo, tak jauh dari Pasar Gading.

Tangannya begitu cekatan dalam merangkai helai demi helai janur kuning menjadi sebuah bungkus ketupat. Meski hanya di pinggir jalan raya, ia bersama puluhan pengrajin dadakan lainnya, selama dua hari menjaring pembeli yang tiap saat datang memborong bungkus ketupat.

Ditangannya yang telah terampil, satu helai janur kuning bisa menjadi satu bentuk bungkus kulit ketupat hanya dengan waktu tak sampai 2 menit.

"Jualan hanya dua hari, sampai besok saja. Jadi sambil melayani pembeli ya sambil membuat satu-satu janur kuning menjadi ketupat," katanya saat ditemui hariankota.com, Senin (10/6/2019).

Ngatmi mengaku mulai datang dilokasi dekat pasar dan membuat ketupat janur kuning sejak subuh pagi hari. Bahan baku berupa daun janur kuning didapat dengan membeli dari pemasok dengan harga satu ikat besar berisi sekira 1200 lembar janur kuning seharga antara Rp 350 ribu hingga Rp 400 ribu.

"Ini hanya pekerjaan sampingan yang sudah saya jalani sejak 10 tahun lalu. Membuat ketupat janur kuning hanya setiap mendekati lebaran saja. Lumayan buat tambahan pendapatan lebaran," tuturnya.

Selama dua hari, dia yang dibantu anak dan suami menganyam kulit ketupat dengan membawa 2 ikat besar daun janur kuning. Menurutnya, satu helai janur bisa menjadi satu bungkus ketupat.

"Setiap bungkus ketupat yang sudah jadi, saya jual dalam satu ikatan berisi 8-10 bungkus antara Rp. 8.000 sampai Rp 10.000 per ikatnya. Harga tergantung besar - kecilnya bentuk bungkus ketupatnya," terang Ngatmi yang mengaku hingga menjelang sore sudah menjual sampai Rp 750 ribu.

Seperti diketahui, tradisi lebaran ketupat ini oleh masyarakat Jawa dilaksanakan pada hari ke-7 pada bulan Syawal yang juga dikenal sebagai hari raya kecil, dimana pelaksanaannya setelah melakukan puasa Syawal selama 6 hari.

Sebagaimana sunnah rasul, setelah merayakan Idulfitri, satu hari setelahnya umat Islam disunahkan berpuasa sampai 6 hari. Sehingga, pada hari ke-7 itulah disebut dengan hari raya kecil atau Bakdo Kupat.

Konon, istilah Lebaran dalam bahasa Jawa yakni Lebar atau lapang (lega-Red) artinya selesai atau sudah berlalu. Maksudnya lebar adalah telah berlalunya bulan ramadan atau selesainya pelaksanaan puasa wajib sampai datangnya bulan Syawal.

Jurnalis: Sapto Nugroho

Editor: Rahayu

Share this Article :

Berita Terbaru

Read More