Rekomendasi

Konsumsi Daging Anjing Paling Besar, LUIS Minta Kepala Daerah se-Soloraya Turun Tangan

Rabu, 19 Juni 2019 : 17.11
Published by Hariankota
SOLO - Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) prihatin dengan tingginya tingkat konsumsi daging anjing di wilayah Solo Raya, dibuktikan dengan maraknya warung - warung penjaja sate anjing yang sangat mudah dijumpai ditiap sudut jalan.

Mengingat besarnya ancaman terhadap kesehatan manusia, LUIS mendorong agar para kepala daerah di Solo Raya berani mengeluarkan kebijakan berupa Peraturan Bupati (Perbub) atau Peraturan Walikota (Perwali) untuk mengatur, membatasi, ataupun melarang konsumsi daging anjing.

"Seperti yang dilakukan oleh Bupati Karanganyar terkait penutupan warung sate anjing, kami mendukungnya. Selain itu kami juga mengapresiasi langkah Komunitas Dog Meat Free Indonesia (DMFI) yang kontinyu mengkampayekan haramnya makan daging anjing," kata Sekretaris LUIS, Endro Sudarsono kepada hariankota.com melalui rilisnya, Rabu (19/6/2019).

Perdagangan daging anjing di Indonesia diantaranya wilayah Solo Raya secara eksplisit telah menjadi sorotan World Health Organisation (WHO) lantaran menjadi penyebab utama penyebaran virus rabies. Hal ini karena anjing bukan binatang ternak sehingga tak diketahui riwayat kesehatannya.

"Daging anjing dalam hukum Islam adalah haram, ada dampak negatif bagi kesehatan dan lingkungan. Mengkonsumsi daging anjing juga bisa mengakibatkan infeksi karena mengandung E.Coli 107, Salmonela, Antraks, Hepatitis dan Leptospirosis," sebutnya.

Mengutip catatan DMFI, masyarakat Indonesia yang mengonsumsi daging anjing sebesar 7 persen dari keseluruhan populasi penduduknya. Namun, angka 7 persen ini memberikan sumbangsih besar terhadap praktik penyiksaan anjing yang akan dikonsumsi dan berkontribusi besar terhadap penyebaran virus rabies.

"Penularannya pun sederhana dari daging anjing yang dikonsumsi menuju tubuh manusia," ujar Endro. Masyarakat perlu mengetahui bahwa ada proses panjang yang memprihatinkan harus dilalui anjing-anjing itu sebelum jadi daging konsumsi.

Mayoritas adalah anjing peliharaan yang dicuri atau anjing liar yang dipungut, kemudian ditangkap dan dikumpulkan sebelum dimatikan untuk dikonsumsi.

"Oleh karenanya kami sangat berharap agar para kepala daerah berani mengeluarkan kebijakan yang mengatur tentang itu (larangan konsumsi daging anjing). Dalam pelaksanaan tentu saja perlu waktu yang cukup untuk sosialisasi terutama terhadap para pedagang anjing," pungkasnya.

Jurnalis: Sapto Nugroho

Editor: Gunadi

Share this Article :

Berita Terbaru

Read More