Rekomendasi

Namanya Aneh, Bonsai Kimeng Ada yang Sanggup Membeli Rp 500 Juta

Senin, 24 Juni 2019 : 21.24
Published by Hariankota
SUKOHARJO - Nama jenis bonsai Kimeng bisa dikatakan sedikit aneh didengar telinga. Bandingkan misalnya dengan nama beberapa jenis bonsai lain seperti bonsai Beringin Putih atau Santigi Karang yang lebih populer dan terdengar indah.

Namun siapa sangka dibalik namanya yang tak enak didengar ini banyak sekali kolektor justru memilihnya dibandingkan yang lain. Tampilannya tak bisa disangkal tidak kalah indahnya dengan jenis bonsai lain.

Seperti terlihat di ajang Pameran dan Kontes Bonsai yang digelar Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Sukoharjo di Alun - Alun Satya Negara Sukoharjo ini.

Sebuah jenis bonsai Kimeng (Ficus Microcarpa) dari Taiwan berhasil mencuri perhatian juri hingga diputuskan menjadi yang terbaik.

Tanaman mungil nan unik yang diperkirakan berasal dari pohon usia ratusan tahun milik warga Pacitan, Jatim ini berhasil menggungguli ratusan bonsai peserta kontes lainnya dengan predikat the best in class dalam ajang yang digelar dalam rangka HUT ke 73 Pemkab Sukoharjo.

"Ini merupakan pameran dan kontes tingkat nasional perdana yang diselenggarakan oleh PPBI Cabang Sukoharjo mengambil kelas regional sampai madya. Dalam kegiatan sedikitnya berhasil menjaring mulai (bonsai) tingkat prospek, regional dan madya sebanyak 312 peserta," terang Maryo selaku Ketua PPBI Sukoharjo kepada hariankota.com, Senin (24/6/2019).

Disebutkan Maryo, dari ratusan bonsai dalam kontes, ada satu jenis bonsai Kimeng lainnya milik peserta yang sudah ditawar seorang pengunjung dengan nilai Rp 500 juta. Oleh sang pemilik, penawaran tersebut ditolak dengan alasan masih jauh dari harga yang diharapkan.

"Memang (betul) ada pohon (bonsai jenis Kimeng / beringin Taiwan) yang sudah ditawar Rp 500 juta, tapi menurut kabar, permintaannya Rp 750 juta. Yang ditawar itu justru bukan yang memenangi kontes. Milik kolektor warga Solo," ungkap Maryo.

Dimata penggemar tanaman bonsai, yang terbaik atau yang memenangi penilaian bonsai dalam sebuah kontes belum tentu mempunyai nilai jual termahal. Penilaian bonsai dalam kontes itu, menurut Maryo hanya pada bentuk. Tidak memandang jenis pohon, besar atau kecil.

"Sedangkan yang mempengaruhi nilai jual itu tidak hanya bentuk saja, namun mencakup banyak kriteria, mulai bentuk, usia, besarannya pohon hungga unsur seni estetika dari dimensi, perspektif dan hal lainnya" imbuhnya.

Selain pameran dan kontes, bagi pengunjung yang berminat mengkoleksi bonsai, panitia juga membuka beberapa stand yang menjual bonsai prospek mulai harga Rp 200 ribu hingga Rp 40 juta. Pameran digelar sejak 19 Juni sampai 1 Juli mendatang.

”Kami sengaja menggelar pameran di Alun-Alun Satya Negara. Tujuannya untuk lebih mengenalkan kepada masyarakat tentang dunia tanaman bonsai,” pungkasnya.

Jurnalis: Sapto Nugroho

Editor; Rahayu

Share this Article :