Rekomendasi

Pemandian Langenharjo, Warisan Luhur Peninggalan PB X (1)

Minggu, 16 Juni 2019 : 17.53
Published by Hariankota
SEBUAH pintu masuk bertulis Paku Buwono (PB) X ditengah pagar tembok yang sudah pudar akibat rapuh termakan usia, menyambut pengunjung saat memasuki kawasan cagar budaya pemandian air hangat Langenharjo, di Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo. Hanya saja, seiring gencarnya pembangunan tempat wisata modern seperti mall dan hotel dengan beragam fasilitas serta perkembangan dunia pengobatan penyakit kulit. Keberadaan pemandian Langenharjo seakan tenggelam ditelan gelombang jaman.

SAPTO NUGROHO - SUKOHARJO

Kawasan yang konon merupakan miniatur bangunan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat ini dibangun oleh putra PB IX yakni, PB X semasa bertahta dari 1893 - 1939 Masehi.

Letaknya menyatu dengan area Pesanggrahan Langenharjo, tempat raja Keraton Solo beserta keluarga berekreasi. Lingkungan pemandian dihiasi pohon -pohon tinggi dan besar yang mendatangkan rasa sejuk.

Apalagi juga ditopang halaman luas, sehingga membuat pengunjung yang datang betah berlama - lama. Posisi pemandian ini di bagian belakang bangunan utama pesanggrahan dengan dibatasi sekat pagar tembok.

Aura kedamaian terasa begitu kaki menjejak tanah di kawasan ini. Keberadaan bangunan pemandian telah menjadi komponen daya tarik tersendiri bagi pengunjung selain bangunan utama pesanggrahan dimana lokasinya tepat berada dipinggir Sungai Bengawan Solo.

Mayoritas pengunjung yang datang percaya, bahwa kandungan kadar belerang yang cukup tinggi dan hangat di pemandian ini, diyakini berkhasiat menyembuhkan bermacam penyakit kulit karena memiliki mineral tinggi.

Dulu air yang dialirkan kedalam bak - bak mandi atau bathtup untuk berendam di kamar tertutup diambil dengan sistem artesis menggunakan pipa besi dari kedalaman tanah sekira 100 meter.

Sebelum dialirkan, air ditampung dalam bak penampung besar terlebih dulu. Namun, seiring perjalanan waktu, saat ini pipa tersebut telah berkerak dan menyumbat aliran air.

Disamping itu ada yang berpendapat terhentinya aliran air akibat bencana gempa bumi beberapa tahun lalu hingga menyebabkan pipa didalam tanah bergeser.

Untuk mengatasi terhentinya aliran air, oleh Sunarno Hadi Wiyono (60) satu - satunya penjaga pemandian atau juru kunci, dengan cara swadaya dibuatkanlah saluran baru dengan membuat sumur bor menggunakan pipa ukurun lebih kecil serta tambahan mesin pompa penyedot.

"Jadi sebelum dibuatkan saluran baru, airnya ini sempat tak keluar lagi sekitar dua tahun lamanya. Otomatis masyarakat yang akan mandi berendam tidak ada. Dengan tidak ada yang mandi berarti nggak ada pemasukan," ujarnya saat ditemui hariankota.com, Minggu (16/6/2019).

Mengingat satu - satunya pemasukan pendapatan untuk pemeliharaan kawasan pemandian bersumber dari pengunjung yang datang berendam mandi air belerang, maka dengan adanya saluran sumur baru didekat sumur lama itu telah menghidupkan asa kembalinya keramaian pengunjung pemandian ini.

Hanya saja, seiring gencarnya pembangunan tempat wisata modern seperti mall dan hotel dengan beragam fasilitas serta perkembangan dunia pengobatan penyakit kulit. Keberadaan pemandian Langenharjo seakan tenggelam ditelan gelombang jaman. (Bersambung)

Editor: Gunadi

(Jumali)

Share this Article :

Berita Terbaru

Read More