Rekomendasi

Penyerahan Zakat Fitrah Keraton Solo Jadi Momen Hidupkan Semangat Persatuan

Minggu, 02 Juni 2019 : 23.30
Published by Hariankota
SOLO - Bertempat di Sitihinggil Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, ratusan sentono dalem dan abdi dalem berkumpul untuk menerima pemberian zakat fitrah menyambut Hari Raya Idulfitri 1440 Hijriah dari Lembaga Dewan Adat (LDA).

Pemberian zakat fitrah sudah menjadi bagian dari tradisi keraton tiap bulan Ramadan, dimana untuk pelaksanaan tahun ini, para abdi dalem juga diajak buka puasa bersama dengan diawali penyampaian tausiah oleh seorang mubhalig.

Ketua LDA Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, GKR Wadansari Koes Murtiyah akrab disapa Gusti Mung, kepada hariankota.com, dan awak media lain, Minggu (2/6/2019) petang, seusai acara mengatakan, pemberian zakat fitrah merupakan bentuk kepedulian keraton kepada sentono dalem dan abdi dalem dengan sumber dana berasal dari iuran.

"Ini dari sentono, khususnya yang peduli terhadap abdi dalem. Mereka iuran untuk memberikan zakat fitrahnya. Dan,(selain itu) intinya kami menyampaikan kepada abdi dalem, bahwa setiap bulan diadakan pertemuan sebelum bisa kembali masuk kedalam keraton menjalankan tugas kewajiban masing - masing," kata Gusti Mung.

Hal itu dikatakan, mengingat saat ini Gusti Mung beserta putra - putra Pakubuwono (PB) XII dan PB XII dari LDA, belum bisa beraktivitas di dalam keraton. Termasuk didalamnya para sentono dalem dan abdi dalem yang jumlahnya sekira 430 orang.

"Nanti, kami akan sama - sama menyampaikan kepada pemerintah bahwa inilah abdi dalem keraton yang sudah berpuluh -puluh tahun mengabdi, dimana saat ini menanti kebijakan pemerintah agar bisa kembali bekerja didalam keraton. Mereka ini sebetulnya didalam keraton itu intinya bekerja sesuai tugas dan kemampuan bidang masing - masing," jelas salah satu putri PB XII ini.

Menurut Gusti Mung selama ini sentono dalem dan abdi dalem bagi keraton mempunyai peran penting karena ikut mengembangkan kebudayaan Jawa melalui sanggar - sanggar dalam wadah Yayasan Pawiyatan Kebudayaan. Ada pelatihan seni tari, karawitan, MC (Master of Ceremony) bahasa Jawa, seni tembang Jawa dan pedalangan.

"Jadi, semua itu sudah berjalan sejak Tahun 1992 melalui wadah Yayasan Pawiyatan Kebudayaan Keraton Surakarta. Dan sekarang keraton jadi nggak ada kegiatan apa - apa. Nah, kami memberikan pemahaman kepada sentono dalem dan abdi dalem (meski diluar keraton) untuk tetap bekerja seperti yang dilakukan didalam keraton," kata Gusti Mung.

Mengingat masih ada konflik internal, diakui saat ini semua kegiatan Yayasan Pawiyatan Kebudayaan Keraton oleh Gusti Mung disebutkan belum bisa dilakukan didalam keraton. Oleh karenanya, kepada sentono dalem dan abdi dalem yang hadir dalam acara pemberian zakat fitrah diminta untuk tidak patah semangat.

"Ini yang paling penting bagi kami untuk selalu memahamkan, mengingatkan bahwa nanti pasti kembali masuk kedalam keraton. Karena kami ini adalah bagian dari keraton. Isinya keraton itu ya kami, bukan siapa - siapa. Kalau sekarang diisi orang lain dan ada persepsi bahwa keraton itu milik Sinuwun (Raja-Red) itu sangat salah," tegasnya

Agar persoalan tersebut tidak berlarut - larut, Gusti Mung menyatakan, sesegera mungkin pihaknya akan melakukan pertemuan dengan pemerintah, meminta agar mengembalikan posisi sentono dalem dan abdi dalem yang saat ini diluar keraton.


"Nah ini nanti, setelah keadaan negara, atau pemerintah sudah tenang atau usai hasil pemilu yang digugat di Mahkamah Konstitusi (MK) diputuskan, maka kami akan mengingatkan pemerintah untuk mengembalikan posisi sentono dalem dan abdi dalem yang secara institusi juga punya hubungan dengan pemerintah," pungkasnya.

Jurnalis: Sapto Nugroho
Editor: Gunadi

Share this Article :