Rekomendasi

Dialog Kebangsaan, Menggugah Generasi Milenial Membendung Radikalisme

Jumat, 26 Juli 2019 : 21.06
Published by Hariankota
SUKOHARJO - Kehilangan kekasih atau pacar, masih bisa mencari lagi. Kehilangan perhiasan emas, masih ada yang menjual agar dapat membeli yang baru. Tapi kalau kehilangan tanah air, maka akan kemana mencarinya.

Sepenggal kata dalam dialog kebangsaan yang digelar oleh Lembaga Kajian Keislaman Al Hijroh ini dilontarkan untuk menggugah pemikiran cinta tanah air dikalangan generasi milenial atau anak muda peserta dialog sebagai upaya membendung radikalisme yang telah menjadi momok dan isu nasional.

“Ini adalah sebuah upaya dan komitmen bersama, untuk melawan radikalisme di era millennial. Generasi muda diharapkan menjadi generasi yang aktif, dan harus memberikan kontribusi positif bagi negeri ini,” kata Fadhel Mubharok, Ketua Lembaga Kajian Keislaman Al Hijroh kepada hariankota.com dan awak media lain disela acara, Jum'at (26/7/2019) sore.

Dalam dialog menghadirkan pembicara tokoh lintas agama dan budaya ini dimaksudkan juga untuk mencari solusi bagaimana membendung oknum dan kelompok tidak bertanggungjawab yang memanfaatkan situasi nasional untuk merongrong persatuan dan kesatuan anak bangsa Indonesia.

Para pembicara, Ketua GP Ansor Sukoharjo Sahid Mubarak, Ketua Forum Komunikasi Lintas Kultural Solo Raya Mantep Riyanto, dan Pdt Abednego Utomo dari Gembala Injili Ditanah Jawa Pati Jateng, sepakat bahwa sikap saling pengertian antar sesama anak bangsa dan cinta tanah air harus dapat membumi.

Hal itu bisa dimulai dari lingkungan keluarga serta lingkungan sekolah.

"Peran hubungan keluarga menjadi salah satu kunci untuk mencegah radikalisme masuk dalam pikiran anak - anak muda. Kalau mereka didalam keluarga tidak kekurangan kasih sayang orang tua, maka saya yakin paham radikal itu bisa dibendung," sebut Manati Zega, salah satu peserta dialog yang juga dosen Theologi sebuah universitas ternama di Kota Solo.

Sementara, Sahid Mubarak menekankan, selain peran keluarga, peran pemerintah juga sangat penting dalam melakukan kontrol dan pengawasan terhadap para guru agama di sekolah - sekolah.

"Meskipun saat ini sudah ada pengawasan dan kontrol, tapi saya melihat upaya pemerintah belum berjalan dengan maksimal. Saya sepakat terhadap guru agama juga diterapkan sertifikasi untuk menghindari penyampaian materi yang hanya sepotong - sepotong. Selain itu, kepada generasi muda dalam belajar agama jangan hanya dari satu guru," pungkasnya.

Jurnalis: Sapto Nugroho
Editor: Gunadi

Share this Article :

Berita Terbaru

Read More