Rekomendasi

Kekeringan Parah Landa Sragen Utara

Sabtu, 20 Juli 2019 : 18.04
Published by Hariankota
SRAGEN - Akibat kekeringan yang berkepanjangan, berdampak pada krisis air di Sragen Utara.Warga Dukuh, yang berada di kecamatan Tangen, mulai kekurangan air.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, akibat sumur yang sudah mengering, warga terpaksa menggali batu di dasar sungai untuk mendapatkan air bersih.

Samto (65), warga Dukuh Glagah, Desa Dukuh, Kecamatan Tangen, mengungkapkan, sejak tiga bulan lalu, sumur milik warga sudah kering Sedangkan sumber air yang berada di area persawahan yang selama ini jadi tumpuan warga, debitnya makin menipis dan jaraknya cukup jauh.

"Sudah sejak tiga bulan ini Mas kering, susah air. Terpaksa harus nggali sungai begini untuk nyari air. Nanti nunggu ada resapan dan lubangnya terisi air dulu baru diambil. Air dari lubang bebatuan sungai itu nantinya bisa untuk mandi dan minum. Jika keruh, maka sampai rumah diendapkan dulu hingga satu jam kemudian sampai kotorannya mengendap,” ujarnya, Sabtu (20/07/2019).

Menurutnya air dari lubang itu memang hanya sedikit sehingga dua tiga kali pengambilan sudah habis. Sehingga warga harus menggali lagi dan berpindah-pindah titik untuk memperoleh air.

"Setiap tahun, saat musim kemarau, ya sperti ini. Sudah puluhan tahun kami kesulitan air begini. Ya hanya nunggu bantuan pemerintah. Kami beharap, pemerintah membuatkan sumur,” harapnya.

Terpisah, Kaur Umum Desa Dukuh, Ahmad Harun mengatakan, desa ini, merupakan salah satu desa langganan kekeringan setiap tahun. Dijelaskannya, terdapat tiga kebayanan yang setiap tahun selalu dilanda kekeringan, yakni, Kebayanan Sugihan, Glagah dan Dukuh dengan jumlah penduduk ada 1500 KK.

“Setiap tahun harus mengandalkan bantuan air dari pemerintah. Harapannya kalau bisa dibuatkan sumur dalam di tiga kebayanan ini,” tandasnya. Sementara itu, Kepala BPBD Sragen, Sugeng Priyono menyatakan, Desa Dukuh memang termasuk satu dari 36 desa yang masuk database kekeringan di Sragen.

Untuk kekeringan saat ini, pihaknya sudah melakukan droping air sejak awal Juli. Menurutnya, dalam satu hari, bantuan droping masih berkisar dua sampai empat tangki.

"Ini masih normal, puncaknya mungkin nanti sekitar Agustus-September. Tahun lalu dari awal sampai akhir total habis 1.954 tangki. Itu di luar donasi dari pihak ketiga,” kata dia.

Jurnalis :Iwan Iswanda

Editor : Mahardika

Share this Article :

Berita Terbaru

Read More