Rekomendasi

Korban Intimidasi Pinjol Incash Kuasakan Kasusnya ke LBH Solo Raya

Kamis, 25 Juli 2019 : 21.08
Published by Hariankota
SUKOHARJO - Tersebarnya poster viral disejumlah media sosial wajah seorang perempuan dengan tulisan rela berhubungan badan dengan imbalan uang untuk melunasi hutang telah memantik reaksi keprihatinan sejumlah pihak.

Informasi yang diperoleh hariankota.com, dalam poster itu ada foto seorang wanita mengenakan kaos putih bergaris horisontal hitam dengan tulisan di bawah foto nama lengkap berinisial YI warga Kota Solo dan nama keluarga.

"Dengan ini saya menyatakan bahwa saya rela digilir seharga Rp 1.054.000 untuk melunasi hutang saya di aplikasi Incash. Dijamin puas," begitu bunyi kutipan dari tulisan itu. Dalam poster juga tercantum nomor ponsel pribadi YI.

Atas unggahan itu, YI yang merupakan figur dalam poster tersebut mengaku telah menjadi korban lantaran fotonya disebar oleh pihak tak bertanggung jawab. Dia mendatangi LBH Solo Raya yang berkantor di Komplek Sentra Niaga, Solo Baru, Grogol, Sukoharjo, Kamis (25/7/2019), untuk meminta bantuan hukum.

Menurutnya, poster itu dibuat oleh fintech (Financial Technologi) atau jasa pinjaman online (pinjol) ilegal yang telah memberikan pinjaman uang kepada dirinya beberapa waktu lalu.

"Saya ditekan oleh pemberi pinjaman online. Saya malu, stress," kata YI didampingi Sukadewa dari LBH Solo Raya selaku kuasa hukum yang ditunjuk.

Kasus ini bermula dari pinjaman dana online melalui aplikasi Incash. YI mengajukan pinjaman uang sebesar Rp 1 juta yang langsung cair hanya beberapa jam setelah mengirim profil melalui aplikasi online tersebut.

Hanya saja dari pinjaman itu, dia hanya menerima Rp 650 ribu. Oleh pengelola aplikasi, uang pinjaman rupanya telah dipotong dimuka sebesar Rp 350 ribu.

Dan ketika tanggal jatuh tempo tiba, YI yang terlambat dua hari untuk membayar hutang ini mendapat teror dan intimidasi berupa unggahan poster dimana berisi konten yang sangat melecehkan pribadinya sebagai seorang ibu beranak satu.

Sementara itu, Sukadewa mengaku sudah melaporkan kasus pencemaran nama baik ini ke Polresta Solo pada Rabu (24/7/2019) kemarin. Namun begitu, dia juga akan membuat laporan ke Polda Jateng.

"Tadi malam Polresta Solo mengatakan masih ragu-ragu dan sebagainya, katanya alatnya kurang canggih. Untuk itu, kami akan melaporkan ke polda, karena kami serius menindak lanjuti kasus klien kami," katanya.

Dia pun menyayangkan kenapa Kepolisian Solo kurang canggih dalam menangani kasus pelanggaran ITE seperti ini. Sebagai kota besar menurutnya Polresta Solo dalam menangani kasus pelanggaran UU ITE bisa seperti kota lainnya.

"Yang seperti ini, harusnya bisa segera di tangkap. Di Jakarta kasus UU ITE via WA bisa dipidanakan, polisi disini terlambat untuk masalah seperti ini. Polisi disini masih jalan ditempat, ini yang saya sayangkan," keluhnya.

Dari kasus ini, Sukadewa berharap, pihak kepolisian segera dapat menemukan pemilik akun pinjol Incash yang telah merugikan YI, dan mempidanakan sesuai Undang - Undang yang berlaku dengan mencabut izin operasionalnya.

Jurnalis : Sapto

Editor : Mahardika

Share this Article :