Rekomendasi

Sengkuni Gugur Hipnotis Warga Prambanan

Jumat, 12 Juli 2019 : 16.31
Published by Hariankota
YOGYAKARTA - Kolaborasi seni wayang orang dan wayang kulit serta seni lukis tersaji indah dalam satu panggung pertunjukan di Sanggar Sekar Djagat yang berada di Dusun Mutihan, Desa Madurejo, Kecamatan Prambanan, tadi malam.

Mengambil cerita pewayangan Mahabarata dengan lakon 'Sengkuni Gugur' itu dimainkan 76 seniman. Pertunjukan berdurasi sekira tiga jam yang digelar gratis ini mendapat apresiasi dari masyarakat.

Tak hanya warga sekitar Prambanan, terlihat beberapa turis asing pecinta seni juga menyaksikan pertunjukan seni tradisi ini. Penonton yang berjubel seakan terhipnotis dari agedan demi agedan yang dimainkan para seniman, khususnya pemeran seni wayang orang yang notabene berlatar belakang penari.

Gemulai gerakan dan kelincahan gerakan hingga atraksi heroik yang juga diselingi canda membuat penontong engan beranjak pergi.

Penabuh gamelan yang begitu rancak dipadu kelembutan alunan suara biola begitu sahdu membuat pertunjukan semakin hidup. Harum dupa, obor api hingga lampu sorot yang berwarna warni menutup kekurangan panggung pertunjukan yang memanfaatkan bangunan tua.

Pendiri sanggar, Hajar Wisnu Satoto mengatakan, pertunjukan ini mendapat suport dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman. Diharapkan, kolaborasi antar seni ini sebagai salah satu upaya dalam menghidupkan seni dan budaya tradisional.

"Menghidupkan seni, khususnya seni tradisional ini merupakan tanggung jawab kita bersama. Bukan hanya seniman saja, tapi pemerintah dan semua pihak agar tumbuh dan berkembang dari generasi ke generasi," katanya, Jum'at (12/7/2019).

Saat ditanya kenapa mengambil tema Sengkuni Gugur ? Totok -sapaan akrabnya- karena tokoh Sengkuni ini merupakan tokoh yang tidak baik. Dia suka mengadu domba, mengompori sana sini agar terpecah.

"Sengkuni ini licik, ini bicara negara Kurawa dan Pandawa. Jangan dihubungkan dengan politik," kata seniman tari jebolan ISI Yogyakarta ini.

Dalam cerita pewayangan itu, kata Totok, Sengkuni dibunuh karena sudah melukai banyak tokoh. Baik di Pandawa maupun Kurawa dalam alur kisah pewayangan Mahabarata.

Diakhir cerita Sengkuni Gugur, dia dibunuh oleh Werkudoro atau Bima dengan kuku Ponconoko. Ada pesan moral yang ingin disampaikan dalam pementasan ini, yakni menjaga agar sikap buruk Sengkuni harus dihindari dalam hidup di negeri ini.

"Pesan moral, sifat buruk yg ada pada Sengkuni ini harus ditiadakan dalam hidup karena menyangkut kebersamaan dan kerukunan. Negara kita ini majemuk yang harusnya bisa hidup rukun," katanya.

Pertunjukan ini tidak hanya mementaskan 'Sengkuni Gugur', tapi juga pementasan seni lainnya sebelum acara puncak dalam hari jadi ke 12 tahun Sekar Djagat. Ada sendra tari karya siswa SMKI Yogyakarta, Lintang Samodra dengan cerita lokal Pondok Wonolelo.

"Pementasan juga dari kawan-kawan komunitas, ada Rampak Kendang, kemudian Klantang Mimis. Klantang Mimis ini menceritakan Cakil, kita menggugah pada kita semua agar bertindak, tidak semaunya sendiri, tidak bertindak sebagai alat pemecah belah," pungkasnya.

Jurnalis: Danang Prabowo
Editor: Rahayu

Share this Article :

Berita Terbaru

Read More