Rekomendasi

Imbas Audisi Bea Siswa Bulutangkis Dihentikan KPAI, PBSI Daerah Bereaksi

Senin, 09 September 2019 : 15.37
Published by Hariankota
SUKOHARJO - Dihentikannya program audisi umum bea siswa bulutangkis oleh Djarum Foundation, lantaran disoal Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tentang, lazim tidaknya industri rokok mendanai kegiatan anak dibawah umur, menuai pro - kontra.

KPAI menilai ada unsur eksploitasi anak pada aktivitas tahunan tersebut. Disisi lain, pencarian bibit atlet untuk seluruh cabang olahraga, mustahil dilakukan tanpa mitra lantaran pemerintah tak memiliki cukup anggaran.

Ketua Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Sukoharjo Agus Sumantri, saat dihubungi hariankota.com, Senin (9/9/2019) menyatakan pihaknya sangat keberatan atas dihentikannya program bea siswa bulutangkis hanya gara - gara keberatan KPAI.

Alasan yang digunakan KPAI tentang eksploitasi anak, menurut Agus, sangat tidak relevan. Dimanapun, dan dicabang olahraga apapun, pembinaan atlet itu dimulai sejak usia dini, terlepas dari yang mendanai adalah perusahaan rokok.

"Masak pembinaan atlet, karena yang membantu perusahaan rokok, harus mulai dari usia 20 tahun. Ini kan nggak masuk akal. Jadi kami minta KPAI meninjau ulang keputusannya itu," tukasnya.

Dituturkan Agus, selama ini pihaknya sangat merasakan besarnya manfaat audisi umum bea siswa bulutangkis ini. Diakui, pembinaan atlet didaerah masih sangat bergantung pada bantuan dari pihak ketiga.

Tak bisa dibayangkan, jika program ini pada tahun 2020 mendatang, betul - betul berhenti, maka PBSI akan mengalami kesulitan melakukan pembinaan terhadap atlet - atletnya.

"Dalam satu tahun saja, kami sedikitnya dua kali menggelar Kejurkab (Kejuaraan tingkat Kabupaten) bersama Djarum. Ini even untuk pembinaan atlet - atlet usia dini. Apa APBN mampu membiayai itu," tutupnya.

Jurnalis: Sapto Nugroho

Editor: Irawan

Share this Article :

Berita Terbaru

Read More