Rekomendasi

Peredaran Sabu Dikendalikan dari Lapas, Begini Alurnya

Kamis, 19 September 2019 : 18.13
Published by Hariankota
SUKOHARJO - Empat pria, tersangka pengedar narkoba jenis sabu yang ditangkap Satresnarkoba Polres Sukoharjo, tiga diantaranya mengaku mendapat pasokan dari jaringan Lapas. Tiap paket sabu seberat 1 gram, dipasarkan dengan harga Rp 150 ribu - Rp 200 ribu.

Tersangka K alias Tantuk (39), warga Palur Mojolaban Sukoharjo, merupakan penerima kiriman paket sabu dalam jumlah besar, sebelum dikemas dalam kantong plastik kecil-kecil.

Bekerjasama dengan tersangka AS (50), warga Grogol Sukoharjo yang mengaku sebagai kurir, sabu setelah dikemas dalam kantong plastik kecil isi 1 gram, didistribusikan berdasarkan pesanan yang disampaikan melalui hubungan telpon.

"Indikasinya dikendalikan dari Lapas. Kronologinya, tersangka K yang berhubungan dengan rekannya di Lapas Wonogiri diminta mencari orang (kurir-Red), maka didapatlah tersangka AS," ungkap Kapolres Sukoharjo AKBP Iwan Saktiadi kepada hariankota.com, saat rilis kasus di Mapolres setempat, Kamis (19/9/2019).

Dituturkan, setelah berkomunikasi langsung dengan penghuni Lapas Wonogiri yang disebut berinisial SG, tersangka AS diminta menjadi eksekutor mengedarkan paket sabu.

Menurut pengakuan tersangka AS, kiriman paket sabu yang belum dikemas dalam paket kecil, dia ambil pada sebuah tempat dekat lampu merah di daerah Mojolaban. Setelah itu diberikan kepada tersangka K untuk di pecah menjadi paket kecil - kecil.

"Sabu dipecah - pecah oleh tersangka K menjadi kemasan paket kecil - kecil, masing - masing isinya sekira 1 gram. Dari situlah setelah penyelidikan, kami dapat menangkap para tersangka," ungkap Iwan.

Tersangka AS ditangkap pada Senin (16/9/2019) malam lalu, sekira pukul 21.00 WIB di Dukuh Gerdu, Desa Palur, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.

"Pada saat ditangkap, dia mengaku telah "menanam" (meletakkan sabu pesanan-Red) di 7 tempat. Oleh petugas kami, kemudian dilakukan penelusuran, dan hasilnya, 2 tempat masih ada, sedang 5 tempat lainnya sudah diambil orang yang memesan," ujarnya.

Selain itu, tersangka AS juga mengaku, bahwa barang haram tersebut didapatnya dari tersangka K alias Tantuk yang lantas di tangkap pada, Selasa (17/9/2019), di Dukuh Klaruan, Desa Palur, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo sekira pukul 05.00 WIB.

"Dari tangan tersangka K, didapat barang bukti sebanyak 36 paket sabu dengan total berat 47 gram. Sementara dari tersangka AS, barang buktinya 2 paket sabu sekira 1,5 gram," sebut Iwan.

Modus pemasaran sabu - sabu menurut Kapolres antara penjual dan pembeli tidak pernah melakukan pertemuan. Sistemnya delivery order. Pengendalinya dari dalam Lapas Wonogiri.

Sementara, untuk tersangka pengedar lainnya, berinisial RS (27) warga Gonilan Kartasura Sukoharjo, mengaku mendapat pasokan sabu melalui jaringan dari Lapas Klaten.

Tersangka RS ini pada saat dilakukan penggrebekan, Rabu, 7 Agustus lalu, sempat meloloskan diri dengan meninggalkan barang bukti, 2 paket sabu 15 gram berserakan didalam rumahnya. Namun akhirnya pada Kamis, 5 September dapat ditangkap.

"Intruksi pengiriman dan pengambilan barang, baik kepada kurir maupun pembeli hanya disampaikan melalui alat komunikasi hape. Para tersangka, RS, K dan AS, sama sekali tidak pernah tahu siapa yang memesan sabu. Untuk AS tugasnya hanya menaruh barang, kemudian pergi," kata Kapolres.

Jika terbukti sebagai pengedar, para tersangka terancam pidana diatas 5 tahun hingga maksimal seumur hidup, sesuai Pasal 114 ayat (1), subsidair pasal 112 ayat (1) UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang narkotika.

Untuk kelanjutannya, Kapolres mengatakan akan mendalami berkoordinasi dengan Resnarkoba Polda Jateng. Mengingat kasusnya berkaitan dengan lintas sektoral, maka kerjasama dengan Kemenkumham juga diperlukan.

"Karena Lapas dibawah Kemenkumham, mungkin kami akan merumuskan kerjasama lebih lanjut untuk melakukan razia, atau mungkin kami minta izin melakukan pemeriksaan," tandasnya.

Jurnalis: Sapto Nugroho

Editor: Jumali

Share this Article :

Berita Terbaru

Read More