Rekomendasi

Tutup Bulan Suro, Keraton Surakarta Gelar Wayang Kulit Parikesit Dadi Ratu

Senin, 30 September 2019 : 06.58
Published by Hariankota
SOLO - Pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dengan dalang KGPH Adipati Benowo, putra Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) XII digelar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, memperingati berakhirnya bulan Suro.

Ratusan abdi dalem berpakaian hitam berkalung samir, dan masyarakat antusias hadir menyaksikan pertunjukan bertajuk, Mangayubagyo Hajaddalem Ringgitan Tutup Suro Tahun Wawu 1953 (Menyambut hajat raja, gelar wayang kulit menandai berakhirnya bulan suro Tahun Wawu 1953-Red) ini.

Dalam pantauan hariankota.com, duduk dikursi kehormatan, Raja Keraton Surakarta, PB XIII Hangabehi bersama istri, KRAy Pradapaningsih.

Selain itu sederet sentono dan kerabat dalem juga hadir menyaksikan kepiawaian Gusti Benowo dalam mendalang di Sasana Mulyo komplek keraton, Minggu (29/9/2019) malam hingga dinihari.

Diantara para undangan sekaligus juga didaulat menyampaikan sambutan, ada dalang kondang Ki Manteb Sudarsono, pelawak Kirun, dan Ketua Umum Patriot Garuda Nusantara (PGN) Nuril Arifin Husein atau Gus Nuril.

"Ditengah kondisi bangsa yang sedang banyak persoalan, keraton sebagai cikal bakal berdirinya negara harus bisa menjadi panutan dengan kembali muncul untuk mendamaikan keadaan saat ini," kata Gus Nuril dalam sambutan singkatnya.

Lakon wayang yang dimainkan adalah 'Parikesit Dadi Ratu' atau Parikesit Menjadi Pemimpin. Parikesit adalah cucu Arjuna, panengah Pandawa. Dia putra Abimanyu dengan Dewi Utari dari negeri Wirata.

Dalam ceritanya, Parikesit diangkat menjadi Raja Hastina Pura setelah Pandawa, yakni Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa, memenangi perang Baratayuda melawan Kurawa. Yudhistira sebagai putra tertua sempat menjadi Raja Hastina selama 15 tahun.

Diangkatnya Parikesit menjadi raja, diawali setelah 15 tahun memimpin Hastina Pura, Yudhistira dan empat saudaranya ingin mengundurkan diri dan bertapa ke gunung. Dengan kondisi itu, maka takhta Hastina Pura harus dilepaskan.

Namun, karena para putra Pandawa, termasuk Abimanyu, tewas dalam perang Baratayuda, takhta Hastinapura diserahkan kepada cucu salah satu Pandawa.

Pilihan pun kemudian jatuh ke cucu Arjuna yakni, Parikesit, yang juga putra Abimanyu. Di masa mudanya, Abimanyu pernah mendapatkan Wahyu Tjakraningrat. Barang siapa yang bisa mendapatkan Wahyu Tjakraningrat, anak keturunannya akan menjadi raja.

Maka, setelah Pandawa mengundurkan diri dari kerajaan, kemudian dinobatkanlah Parikesit menjadi Raja Hastinapura.

Bagi masyarakat Jawa yang masih kental memegang adat, dan budaya tradisi, mereka mengenal cerita dalam lakon wayang kulit ini, sering dimainkan oleh berbagai dalang dengan judul 'Parikesit Jumeneng Noto'.

Melalui pagelaran wayang kulit, diharapkan bisa menjadi pelajaran penting tentang membangun kesatuan dan persatuan bangsa.

Jurnalis: Sapto Nugroho

Editor: Mahardika

Share this Article :