Rekomendasi

Berbagi Ilmu Talent Management untuk Melenial

Selasa, 29 Oktober 2019 : 15.30
Published by Hariankota
YOGYAKARTA - Saat ini, generasi terbesar di dunia kerja adalah generasi milenial. Mereka mengharapkan berbagai tantangan dan peluang untuk tumbuh, memajukan karier yang lebih cemerlang.

Human Capital Director Maybank, Irvandi Ferizal mengatakan, perubahan demografi, membuat anak muda mengambil peran untuk kepemimpinan perusahaan.

"Dulu semua manual, belum ada internet. Sekarang begitu cepat, sehingga terkadang ada gap di perusahaan. Generasi lebih tua kaget menghadapi generasi milenial," katanya, Selasa (29/10/2019).

Hal itu disampaikan saat menjadi pembicara dalam ngobrol bareng dan berbagi ilmu tentang Talent Management for Millenials di Prima In Hotel Malioboro, Yogyakarta.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigransi DIY, Andung Prihadi Santoso membuka acara yang dihelat Komunitas Praktisi Human Resource Indonesia (KPHRI) ini.

Paradigma anak muda milenia juga berbeda dengan generasi sebelumnya. Untuk itu, perusahan juga harus mengubah pola terbaru untuk keluar dari pola yang dinilai sudah usang.

Ada yang menilai, generasi milenial tidak loyal pada perusahan. Itu terlihat dari masa kerja yang pendek pada mereka generasi muda milenial. "Generasi milenial kadang hanya 2 atau 3 tahun kerja di perusahaan, sudah pindah ke tempat lain. Kalau generasi dulu, sampai pensiun," katanya.

Guru Besar UGM, Konsultan dan juga Trainer; Prof, Djamaludin Ancok juga menjadi pembica dalam kesempatan ini. Kenyamanan yang diberikan perusahan membuat generasi milenial lebih betah berada di perusahan atau sebuah organisasi.

Dosen Faktultas Ekonomi Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW, Yustina Erti Pravitasmara Dewi memandu acara yang dikemas santai ini dengan baik. Pelaku bisnis dan kaum akademis dan juga milenial menyimak banyak hal dalam diskusi berbobot ini.

Ketum KPHRI, Isnantyo Widodo mengatakan, generasi milenial memiliki talent (bakat), potensi, ketrampilan yang luar biasa. Jika perusahan salah menangani sumber daya manusia milenial ini, perusahan itu sulit untuk berkembang.

"Prof Djamaludin Ancok kita undang supaya memberi gambaran dari sisi akademis. Untuk praktek di perusahaan kita undang dari Maybank, supaya temen-temen bisa belajar dari sisi teori dan praktek," katanya.

Banyak dari kalangan sadar mencari SDM untuk perusahaan itu tidak gampang, sehingga dalam diskusi ini ingin mengetahui dan bagaimana mengelola SDM yang sudah ada, khususnya dari generasi milenial.

Begitu juga dunia pendidikan, dosen maupun pengajar harus mampu membuat nyaman dalam metode belajar, baik diruangan maupun luar ruang. "Engak ada anak muda milenial mau kerja di level bawah. Ini menjadi salah satu upaya agar perusahan tidak salah dalam memperlakukan karyawan," urai Isnantyo.

Pemerintah Daerah (Pemda) DIY mengapresiasi kegiatan ini. Bahkan, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigransi DIY, Andung Prihadi Santoso berharap ada rekomendasi untuk Pemda DIY dari diskusi ini.

"Kami pandang acara ini sangat strategis dan relevan dengan kondisi, karena membicarakan bagaimana mengelola tenaga SDM era milenial.

Bgmn mengelola mereka agar optimal bekerja, cara mendekati mereka, dan kita harus akui, sekarang sampai 15 tahun kedepan staf-staf akan berganti dengan era milenial kelahiran 2000 keatas, generasi x generasi y," jelasnya.

Andung mengaku harus ada pendekatan yang sangat berbeda dengan era dulu. Diskusi ini menjadi sangat penting karena yang berbicara para praktisi-praktisi, sangat mengusai dan juga para akademisi yang mengusai permasalahan terkait milenial.

"Saya berharap nanti ada rekomendasi untuk kami, sehingga kami bisa mengolah kebijakan yang sesuai dengan perkembangan jaman dan sifat milenial mereka," katanya.

Jurnalis: Danang Prabowo
Editor: Rahayuwati

Share this Article :