Rekomendasi

Bergaya Retro, Motor Listrik Ini Curi Perhatian Bupati

Selasa, 22 Oktober 2019 : 19.54
Published by Hariankota
SUKOHARJO - Sebuah motor listrik dengan desain retro berciri khas lampu depan berbentuk bulat buatan anak negeri, mencuri perhatian sejumlah pejabat Forkopimda lingkungan Pemkab Sukoharjo.

Kehadiran tungganggan layaknya motor bensin dalam acara Multi Stakeholder Forum PLN UP3 Sukoharjo di Lobi Kantor Bupati Sukoharjo, Selasa (22/10/2019) ini, tak urung membuat sejumlah undangan penasaran ingin menjajalnya.

Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya pun penasaran ikut menjajal didampingi Manager PLN UP3 Sukoharjo, La Ode Lawati, disaksikan, Dandim 0726/Sukoharjo Letkol Inf Chandra Ariyadi Prakosa, dan Kapolres Sukoharjo AKBP Bambang Yugo Pamungkas.

Dalam pantauan hariankota.com, motor berwarna kombinasi biru terang menyolok dan hitam dof ini memiliki tangki layaknya motor konvensional.

Namun benda tersebut dipasang hanya sebagai aksesoris.Dalam perkembangan teknologi motor listrik, Indonesia ternyata tidak kalah dengan negara asing yang lebih dulu memulainya.

Salah satunya BF Goodrich, produsen lokal yang membangun motor listrik bergaya retro model BF CG tersebut.

Meskipun memiliki desain jadul, model BF CG yang dibuat di Semarang, Jateng, dan dipasarkan bekerjasama dengan PLN ini, dilengkapi fitur modern berpanel indikator digital.

Sistem pengereman disc brake dengan ukuran ban masing-masing 2.75-18 dan 5.00-16.

Tak hanya itu, daya listrik yang dibenamkan sebesar 2.000 Watt QS Motor, dan baterai 72V20AH Lead Acid Battery, dengan jarak tempuh 60 km. Adapun waktu pengisian baterai sekira 6-8 jam. Sementara, kecepatan maksimal 58 km per jam.

"Saat ini kan, kita ketahui jaman elektronik. Jadi, motor listrik ini tujuannya adalah untuk mendorong masyarakat merubah lifestylenya ke arah modern, ke arah electric life," terang La Ode Lawati.

Disebutkan, dengan banderol harga Rp 19,8 juta on thr road (OTR), bagi konsumen yang berminat dari luar kota Semarang, juga dapat memesan dengan waktu pengiriman sekitar tiga minggu.

Jurnalis: Sapto Nugroho

Editor: Akbar Nugroho

Share this Article :