Rekomendasi

Buka Festival Candi, Wabud Sleman Rasakan Aura Berbeda

Sabtu, 26 Oktober 2019 : 13.26
Published by Hariankota
YOGYAKARTA - Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun membuka secara resmi pertunjukan seni budaya dalam bingkai festival seni kawasan candi, tadi malam, Jum'at (25/10/2019).

Ia merasa ada perbedaan aura saat menginjakkan kaki di kawasan Candi Barong yang berada di perbukitan Batur Agung, Desa Sambirejo, Prambanan, Sleman. "Saya pernah datang ke sini siang hari, biasa saja, tapi malam ini perasaan ada yang beda," katanya saat memberi sambutan.

Perbedaan suasana itu karena ada gamelan jawa dan pengrawit. Begitu juga suara merdu gending jawa yang dilantunkan diatas pangung terbuka dengan latar belakang Candi Barong yang eksotis.

Ia membayangkan pertunjukan seni budaya ini digelar tepat pada malam bulan purnama. Selain mendapat penerangan alam secara langsung, juga suasana akan terasa lebih menggigit pada sanubari.

"Ada aura tertentu yang saya tidak bisa ucapkan dengan kata-kata. Saya merinding je, jian luar biasa," katanya dengan logat khas daerah yang familier.

Membaca sambutan Bupati Sleman, Sri Purnomo yang tidak bisa hadir, festival ini harus bisa memberi edukasi pada masyarakat luas tentang warisan peninggalan sejarah seperti candi.

Peninggalan sejarah harus terus dilestarikan, dikembangkan, hingga memberi manfaat untuk kesejahteraan bagi masyarakat. Pemkab Sleman juga berharap festival seni kawasan candi ini menjadi agenda tahunan yang perlu ditingkatkan tahun depan.

Kolaborasi dengan instansi lain dan berbagai pihak, khususnya dunia pariwisata dan BPCB perlu dilakukan supaya pertunjukan seni seperti ini bisa menjadi daya tarik wisatawan.

"Saya pribadi punya mimpi, besok tahun depan pertunjukan seperti ini penuh semua (banyak yang menonton,red), ada aura tertentu, kita blow-up," katanya.

Ia memberi contoh kegiatan budaya kenduri yang ada di Banyuwangi, Jawa Timur. Meski kenduri sudah biasa dilakukan masyarakat, tapi dikemas dengan baik, bisa memberi kesan menarik.

"Kita wujudkan bersama mimpi itu. Harus optimis dan kita pasti bisa. Ada 339 kelompok kesenian yang sudah memiliki nomor induk kebudayan kok di Sleman," katanya memberi suport.

Meski demikian, ada catatan yang harus dibenahi dalam pertunjukan festival candi ini. Selain momentum waktu yang pas, juga durasi yang harus ditambah agar memberi banyak waktu bagi pengunjung yang datang.

"Tidak hanya durasi pendek, lebih panjang agar bisa memberi kesempatan bagi wisatawan untuk lebih berlama-lama tinggal," tandasnya.

Kelapa Dinas Kebudayaan Kab. Sleman, Aji Wulantara menyampaikan kegiatan yang gelar selama tujuh hari ini sejalan dengan konsep pengembangan kebudayaan Sleman.

Konsep kebudayaan Sleman sendiri didasarkan pada falsafah 'Kiblat Papat, Limo Pancer' yang menekankan keseimbangan penyebaran pada semua arah mata angin di Sleman.

"Festival seni kawasan candi ini menggunakan dana keistimewan. Kegiatan ini yang kedua setelah tahun lalu dilaksanakan," katanya.

Koordinator seniman kota 1000 candi, Hajar Wisnu Satoto menyampaikan hari pertama dalam pembukan festival candi ini bersama sanggar Bayu Murti dengan pementasan Kalamakara.

"Hari kedua besok (malam ini,red) di Candi Ijo dengan puncak acara sendratari Uluk-uluk Medang Kamulan," kata pria yang akrab disapa Totok.

Hari ketiga di Candisari, Bendan, Tamantirto, Kalasan dengan pementasan Maha Guru Dharma dari sanggar D'Pancanaka. Hari kempat dari Sanggar Bawikaraga, Berbah menampilkan Babharing Kasampurnan di Candi Kalasan.

Hari kelima, sendratari Sang Pemuja dari sanggar Magada, pimpinan Beni Harminto di Candi Sambisari, Purwomartani, Kalasan. Hari keenam di Candi Kedulan, sendratari Balitung Winisubo akan dibawakan oleh sanggar Seni Tari Puri Ayodya, pimpinan LB Surojo.

Sebagai penutup dari Padepokan Sekar Jagat di Candi Banyunibo. Yang ditampilkan sendratari Hariti sebagai Dewi Kesuburan dan pengusir pengaruh jahat yang menimpa anak-anak.

Pementasan di masing-masing tempat berbeda satu sama lain. Cerita sejarah pendirian candi dikemas dalam sentratari yang ditampilkan.

Jurnalis: Danang Prabowo
Editor: Rahayuwati

Share this Article :

Berita Terbaru

Read More