Rekomendasi

Insiden Wiranto, Setara Institute Ajak Lawan Terorisme

Jumat, 11 Oktober 2019 : 20.37
Published by Hariankota
YOGYAKARTA - Direktur Eksekutif SETARA Insitute dan Pengajar Hukum Tata Negara UIN Syarif Hidayatullah, Ismail Hasani mengajak untuk memperkuat ketahanan warga supaya bangun dalam melawan segala bentuk terorisme.

Serangan terhadap Menko Polhukam Wiranto, menurutnya, harus dibaca sebagai serangan terhadap negara. Serangan itu bisa menimbulkan efek berlapis dan memperpanjang usia keresahan di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, aparat keamanan mesti meningkatkan kewaspadaan dengan mengantisipasi konsolidasi sel-sel tidur dan aksi teror yang memanfaatkan berbagai momentum politik nasional.

Tetapi, antisipasi ini dilakukan dengan tidak melakukan generalisasi termasuk penggunaan isu intoleransi dan radikalisme sebagai alat penundukkan gerakan sipil yang melakukan koreksi atas sejumlah kekeliruan kebijakan negara.

"Kami mengutuk segala bentuk terorisme dan ekstremisme kekerasan (violent extremism) serta penggunaan doktrin ideologis apapun untuk mengganggu dan merusak tatanan hidup bersama bangsa dan negara," katanya dalam keterangan tertulis pada wartawan, Jum'at (11/10/2019).

Terorisme merupakan ancaman nyata. Oleh karena itu, pemerintah harus selalu menyiagakan dan memobilisasi sumber daya yang memadai untuk mencegah dan menangani ekspresi puncak ekstremisme kekerasan tersebut.

Hak itu demi menjaga dan melindungi keselamatan seluruh warga negara. Meski demikian, pencegahan terorisme menuntut pemerintah harus memiliki formula yang presisi, holistik dan berkelanjutan dalam kerangka HAM dan demokrasi.

"Pemerintah harus fokus pada hulu terorisme dan mempersempit enabling environment yang mempercepat inkubasi terorisme," katanya.

Terorisme dan segala bentuk ekstremisme kekerasan merupakan musuh bersama seluruh bangsa dan umat manusia. Oleh karena itu, pencegahan dan penanganannya tidak cukup mengandalkan kelembagaan dan sumber daya negara.

Negara memang harus menjadi agensi utama dalam pencegahan ekstremisme kekerasan. Namun demikian, dibutuhkan juga partisipasi dan keterlibatan warga, khususnya dalam pencegahannya, sehingga akan terbangun perlawanan semesta terhadap terorisme.

"Agenda penguatan ketahanan warga (resilience) adalah kebutuhan untuk membentengi warga dari paparan dan intrusi gerakan dan narasi antikebinekaan dan Pancasila," katanya.

Dalam konteks itu, Pendidikan Kebinekaan dan tata kelola yang inklusif harus digalakkan, agar seluruh anak bangsa dapat hidup bersama secara damai di tengah aneka perbedaan.

Di samping itu, promosi toleransi mesti menjadi agenda kolektif yang berkelanjutan. Oleh karena itu merebaknya intoleransi dan radikalisme harus ditangani sejak dini. "SETARA Institute mengingatkan kembali bahwa intoleransi merupakan anak tangga pertama menuju terorisme," jelasnya.

Sebagaimana diketahui, Menko Polhukam Wiranto, menjadi korban penusukan oleh terduga teroris pada Kamis, 10 Oktober 2019 kemarin. Pelakunya berinisial SA alias Abu Rara beserta istrinya, FA.

Kepolisian RI dan Badan Intelijen Negara (BIN) menyebut Abu Rara merupakan anggota Jamaah Ansharu Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS. Abu Rara merupakan jaringan Abu Zee yang ditangkap oleh Polisi di Bekasi pada, 23 September 2019 lalu.

Jurnalis: Danang Prabowo
Editor: Mahardika

Share this Article :