Rekomendasi

Kasus ODGJ Dirantai Kakinya, Pemkab Sukoharjo Langsung Turun Tangan

Selasa, 15 Oktober 2019 : 20.10
Published by Hariankota
SUKOHARJO - Setelah jadi pembicaraan masyarakat, temuan kasus Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dirantai kakinya, mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo.

Berkoordinasi dengan Dinas Sosial, Agus Dwi Nur Cahyo (21) penderita ODGJ anak keempat Sadimin (55), warga Dukuh, Gupit, Nguter, Sukoharjo dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ), Selasa (15/10/2019).

Dalam kesempatan ini, Wakil Bupati Sukoharjo, Purwadi, juga ikut turun tangan guna memastikan penanganan lanjutan bagi perawatan Agus agar segera mendapat pengobatan.

“Kami miris, masih ada warga Sukoharjo yang sakit tidak punya biaya untuk pengobatan, apalagi ini masih muda, masih punya masa depan. Ini harus segera ditangani,” kata Purwadi kepada hariankota.com.

Wabup berharap, kedepan tidak ada lagi temuan kasus seperti Agus. Hanya karena sakit gangguan jiwa tapi malah dirantai kakinya dengan alasan orang tua tak memiiki biaya pengobatan.

"Untuk itu, kami akan melakukan penyisiran, barangkali masih ada warga berpenyakit sejenis yang luput dari perhatian. Semoga tidak ada lagi temuan kasus seperti ini,” tandas Purwadi.

Sementara, Dwi relawan Dinas Sosial menyampaikan, pihaknya berkoordinasi dengan Puskesmas Nguter, membawa Agus ke RSJ di Kota Solo guna mendapat perawatan lebih lanjut.

"Biasanya nanti akan dirawat selama sebulan, kemudian bisa dibawa pulang untuk selanjutnya perawatan dengan obat jalan. Setiap obatnya habis, diminta kontrol ke RSJ," paparnya.

Mengingat saat ini ternyata Agus oleh orangtuanya belum memiliki KTP Sukoharjo, maka untuk sementara, Dwi menyebut dimasukan sebagai Pengemis Gelandangan Orang Terlantar (PGOT).

"Karena memang belum masuk KK di Sukoharjo, masih tercatat KK di Kediri, Jatim. Tapi itu nanti sudah menjadi tanggungjawab kami untuk mengurusnya,” kata Dwi.

Seperti diketahui, Agus dirantai pada sebuah tempat tidur terbuat dari papan kayu di samping rumah tinggalnya, karena kekhawatiran sering pergi tak tentu arah. Kalau malam, ia baru dimasukkan ke dalam rumah.

“Sebelumnya tidak saya rantai. Saya ikat menggunakan tali tambang saja. Tapi itu bisa ia lepas ikatannya. Bahkan empat hari lalu, hampir membakar rumah karena bermain korek api," tutup Sadimin sang bapak.

Jurnalis: Sapto Nugroho

Editor: Mahardika

Share this Article :