Rekomendasi

Legislator PKS DIY Dorong Fintech Lokal

Jumat, 25 Oktober 2019 : 21.46
Published by Hariankota
YOGYAKARTA - Kunjungan wisata di Yogyakarta terus meningkat setiap tahunnya. Begitu juga pada sektor pendidikan, Yogyakarta menjadi tempat tujuan dalam menuntut ilmu dari berbagai daerah di Indonesia.

"Itu bisa berimbas positif pada perputaran uang yang mampu mengerakkan kegiatan ekonomi," kata Wakil Ketua DPRD DIY Huda Tri Yudiana, Jum'at (27/10/2019).

Hanya saja, kata dia, selama ini belum secara maksimal dimanfaatkan dalam mendongkrak produk-produk lokal. "Selama ini dampak ekonomi masih banyak didominasi pihak-pihak tertentu yang notabene dari luar Yogyakarta, bahkan dari luar negeri," tandasnya.

Politisi PKS DIY ini memberi contoh tentang batik yang diproduksi dari tangan-tangan UMKM masyarakat Yogyakarta. "Industri batik lokal masih kesulitan bersaing di pasar karena harga lebih tinggi, begitu juga produk lokal lain ataupin pelaku start-up," katanya.

Dalam transaksi pembayaran, kata dia, saat ini sudah didukung financial technologi (Fintech) yang dikendalikan pihak asing. "Berapa banyak putaran uang yang ada disitu, apakah itu juga berimbas signifikan pada produk-produk lokal maupun UMKM," katanya dengan nada tanya.

Menurutnya, sangat penting mengembangkan dan melindungi produk-produk lokal. Ada gagasan baru melalui konsep transaksi digital yang direplikasi di DIY.

"Masuk objek wisata, hotel hingga belanja produk lokal, bisa menggunakan fintech buatan lokal," katanya. Ide itu sangat tepat diaplikasikan. Apalagi, infrastruktur dan sumber daya manusia, DIY sudah siap, termasuk merchant perbankan di lokasi wisata.

"Untuk itu, produk yang ditawarkan juga harus sudah tersertifikasi, kualitasnya jelas bagus," katanya.

Menangapi gagasan itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) DIY Rony Primanto Hari menyambut positif. Fintech sudah menjadi solusi seiring pemanfaatan teknologi untuk kegiatan.

"Untuk mengejar atau meningkatkan produktivitas dari usaha, perlu didukung pemanfaatan teknologi," katanya. Rony teringat ada sekitar 120 start-up yang ada di Yogyakarta, pada tahun 2017 lalu. Untuk itu, dari sisi SDM, DIY memiliki potensi untuk mengembangkan fintech.

Ia juga memberi gambaran perusahaan aplikasi, star-up hingga developer dari luar yang memiliki kantor cabang di Yogyakarta. Sebagai contoh, gameloft dari eropa maupun shopee id.

Untuk mewujudkan fintech lokal, menurutnya tidak mudah. Namun, bisa diwujudkan dengan mengandeng start-up lokal yang ada. "Minim akses data pelaku star-up ini juga menjadi kendala. Begitu juga modal," katanya.

Rony mengatakan kendala usaha star-up itu high risk, sehingga dimungkinkan banyak investor yang ragu. Pihaknya tetap komitmen mendorong perkembangan bidang star-up, salah satunya dengan menggelar perlombaan.

Jurnalis: Danang Prabowo
Editor: Gunadi

Share this Article :