Rekomendasi

Seni Pertunjukan Buka ISMaTel Studi Etnomatematika di Yogyakarta

Rabu, 23 Oktober 2019 : 05.54
Published by Hariankota
YOGYAKARTA - Nuansa khas daerah terlihat dalam pembukaan seminar bertaraf internasional yang dihelat Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika Yogyakarta.

Bertempat di Hotel Grand Dafam Rohan Yogyakarta, seni tari tradisi tersaji indah dalam rangkaian pembukaan seminar yang mengambil tema Ethnomathematics In Teaching and Learning Process: What, Why and How?

International Seminar on Mathematics Teaching and Learning (ISMaTeL) ini sebagai upaya untuk membuka wawasan guru tentang alternatif inovasi pembelajaran matematika melalui ajang temu ilmiah level Internasional.

Pemukulan gong oleh Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikbud, Ir. Sri Renani Pantjastuti sebagai pertanda membukaan seminar ini.

Saat memberi sambutan, ia berharap seminar yang juga diikuti oleh perwakilan beberapa negara tetangga ini memberi manfaat dalam pembelajaran, khususnya bidang matematika. Beberapa perwakilan negera tetangga itu mulai dari Timor Leste, Laos dan Myanmar.

"Kita apresiasi, semoga peserta banyak mendapat manfaat dalam metode pembelajaran matematika," kata alumnus Magister Administrasi Publik Universitas Gajah Mada Yogyakarta ini, Selasa (22/10/2019) malam.

Mewakili Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Dr Supriano yang tidak hadir, Sri Renani mendapat cinderamata dari Kepala PPPPTK Matematika Yogyakarta, Dr. Dra Daswatia Astuty, M.Pd. Cinderamata itu berupa wayang yang memiliki nilai budaya dan filosofis tinggi.

"Seminar ini untuk mendiskusikan isu terkait peluang dan tantangan implementasi pendidikan etnomatematika di sekolah bagi guru," kata Daswatia.

Ia juga berharap, seminar ini bisa memberi wawasan bagi guru tentang apa itu etnomatematika, mengapa etnomatematika perlu diintegrasikan dalam pembelajaran matematika, hingga studi etnomatematika di situs budaya.

Ketua Panitia ISMaTel, Yuliawanto, M.Si menyampaikan secara runut kegiatan yang akan berlangsung hingga Jum'at, 25 Oktober 2019 nanti. Dr Nirmala Naresh dari University of North Texas, Amerika Serikat dan Prof Wilfredo V Alangui dari University of the Philippines Baguin, Philippina sebagai pembicara.

Begitu juga Dr. Sri Wulandari, M.Pd dari PPPPTK Matematika Yogyakarta hingga Prof Dr Marsigit dari Universitas Negeri Yogyakarta juga menjadi pembica dalam seminar yang diikuti sekitar 200 peserta ini.

Dalam keterangan pers sebelumnya, Kabid Fasilitasi dan Peningkatan Kompetensi PPPPTK Matematika, Dra. Puji Iryanti, M.Sc menyampaikan alasan lokasi seminar di hotel. Ada renovasi sebagian gedung PPPPTK Matematika yang membuat seminar ini berpindah tempat.

"Kami ingin melaksanakan seminar di sini, tapi karena ada bangunan gedung baru direnovasi, sehingga dipindah," katanya, beberapa waktu lalu.

Kabid Program dan Informasi, Dr. Rachmadi Widdiharto menyampaikan, seminar internasional ini bakal digelar secara berkala, yakni dua tahun sekali. Seluruh provinsi di Indonesia mengirim utusan dari Kelompok Kerja Guru (KKG) maupun dari Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

"Ada 10 guru dari negara-negara Asia Tenggara (selain Indonesia) alumni diklat Qitep in Mathatics, 34 perwakilan KKG/MGMP perwakilan provinsi, enam guru yang diseleksi dari paper karya peserta 1000 guru magang ke luar neger, dan ada 100 orang guru, kepala sekolah, pengawas hingga dosen yang mendaftar," katanya.

Peserta tak hanya mendapat pembekalan dalam ruangan saja, tapi juga akan belajar di empat lokasi situs budaya. Empat lokasi yang bakal dilakukan studi etnomatematika itu mulai dari Candi Prambanan, Ratu Boko, Kraton Yogyakarta dan pusat kerajinan perak di Kotagede, Yogyakarta.

Jurnalis: Danang Prabowo
Editor: Rahayu

Share this Article :