Rekomendasi

UNS Kembali Akan Kukuhkan Tiga Guru Besar

Kamis, 31 Oktober 2019 : 19.42
Published by Hariankota
SOLO - Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta akan mengukuhkan tiga guru besar baru. Ketiganya, akan dikukuhkan secara bersamaan di Auditorium GPH Haryo Mataram UNS, Selasa (5/11/2019) mendatang.

Adapun tiga guru besar yang akan dikukuhkan tersebut yakni Profesor Suciati dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Profesor Leo Agung dari FKIP, serta Profesor Istadiyantha dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB).

Profesor Suciati akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Pendidikan IPA FKIP UNS. Ia merupakan Guru Besar ke-204 UNS dan ke-60 pada FKIP.

Dalam sidang pengukuhan guru besar nanti, Suciati menyampaikan akan membacakan pidato pengukuhan dengan judul Teknik Scaffolding pada Pembelajaran IPA Berorientasi Inkuiri: Implikasinya terhadap Kemampuan Berpikir Ilmiah.

Judul tersebut ia angkat dengan pertimbangan bahwa sebagaimana tertuang dalam kurikulum serta capaian standar proses yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

Yakni bahwa pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) ditujukan untuk membekali peserta didik tentang pengetahuan IPA yang diperoleh melalui metode ilmiah dengan cara penemuan (inkuiri).

Di mana peserta didik membangun konsep melalui pengalaman dengan cara berinteraksi dengan lingkungannya secara mandiri.

Menurut Suciati, hal ini mengandung makna bahwa pembelajaran IPA tengah mengalami transisi paradigma pembelajaran, dari sekadar transfer of knowledge yang berpusat pada guru (teacher centered) menuju pembelajaran yang berorientasi penemuan (inkuiri) yang berpusat pada peserta didik (student centered).

Perubahan paradigma merupakan proses panjang dan kompleks yang penuh rintangan dan tantangan, sehingga perlu kesiapan seluruh komponen pembelajaran.

Untuk mewujudkan hal tersebut perlu sebuah inovasi pembelajaran berupa teknik pembelajaran yang tepat, agar peserta didik tidak mengalami hambatan dalam membangun pengetahuannya selama proses pembelajaran.

"Teknik scafolding adalah dukungan atau bantuan sementara yang diberikan guru kepada peserta didik untuk menyelesaikan tugas - tugas atau permasalahan.

Dukungan atau bantuan bisa diberikan dalam berbagai bentuk serta cara dan akan dan dilakukan pengurangan /dihentikan ketika peserta didik sudah mampu menyelesaikan permasalahan sendiri, atau mampu mengambil alih tanggung jawab dalam pembelajaran.

Menurut Herber (1993) bantuan yang diberikan dihentikan, ketika peserta didik telah memiliki pemahaman yang permanen.

Scaffolding dapat diberikan dalam berbagai bentuk yang antara lain melalui pemberian pemodelan atau peragaan perilaku tertentu, pemberian penjelasan, mengajak peserta didik untuk berpartisipasi dalam pembelajaran, verifikasi dan klarifikasi terhadap pemahaman peserta didik, serta mengajak peserta didik berkontribusi melalui petunjuk atau kata kunci," beber Suciati di dalam acara jumpa pers yang digelar di Goela Klopo, Jl. Menteri Supeno No.3, Manahan, Banjarsari, Solo, Kamis (31/10/2019).

Sementara itu, Profesor Leo Agung S akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan FKIP UNS. Leo Agung merupakan Guru Besar ke-205 UNS dan ke-61 FKIP.

Dalam pengukuhan nanti, Profesor Leo Agung akan membacakan pidato pengukuhan dengan judul Pendidikan Karakter sebagai Fondasi Keterampilan Abad 21 (5CS Super Skills).

Menurutnya pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi sejumlah komponen, yakni pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.

Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen harus dilibatkan, termasuk komponen pendidikan itu sendiri. Yakni isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran.

Selain itu juga komponen pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.

"Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Lickona (2000), tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif," jelas Leo.

Sedangkan Profesor Istadiyantha akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Kajian Timur Tengah. Istadiyantha merupakan Guru Besar ke-206 UNS dan ke-23 FIB.

Ia akan membawakan pidato pengukuhan dengan judul Pemaknaan Baru Terhadap Hubungan Indonesia-Timur Tengah dalam Rangka Menyongsong ERA 5.0.

Maksud dari studi ini adalah membuka peluang untuk mencari makna baru dari hubungan Indonesia dengan negara-negara Timur Tengah, bukan lagi bersifat oposisi biner.

Seperti baik–buruk dan hitam-putih, tetapi dicari warna dan makna lain yang positif. Sering orang memaknai terhadap sesuatu objek hanya berdasar kepada makna yang beku, makna yang statis, dan terkesan monoton.

Dekonstruksi mencoba menawarkan makna baru dengan reaktualisasi, redifinisi, dan atau reinterpretasi. Naskah pidato ini akan diketengahkan tentang Pemaknaan baru terhadap hubungan Indonesia dengan Timur Tengah.

Upaya untuk meningkatkan jalinan kerja sama antara Indonesia dengan negara-negara di Timur Tengah memerlukan pemaknaan baru. Pemaknaan ini diupayakan dicari makna-makna yang lazim dilakukan. Artinya selalu dicari sisi positif dari makna-makna yang selama ini terpendam.

Teori dekonstruksi memberi peluang untuk melakukan pemaknaan baru, sehingga publik opini yang sering men-generalisasi bahwa bahwa selain daerah-daerah di Timur Tengah itu sebagai daerah religius dan pendidikan, dapat ditemukan zona-zona alternatif dari hasil pemetakan wilayah Timur Tengah.

"Guna menyongsong Era 5.0 atau Society 5.0 dengan tema Humanisme, Indonesia dan Timur Tengah berkesempatan untuk merumuskan bentuk-bentuk humanisme yang akan dikontribuikan dalam era tersebut. Humanisme yang dikembangkan harus terkontrol oleh tiga hal, yaitu antroposentris, ekosentris, dan teosentris," Istadiyantha.

Jurnalis: Kacuk Legowo

Editor: Rahayuwati

Share this Article :