Rekomendasi

Berguru di Bantul, Kelola Sampah Malang Jauh Lebih Hebat

Jumat, 01 November 2019 : 09.45
Published by Hariankota
MALANG - Hampir setiap daerah memiliki masalah yang cukup serius perihal sampah. Tak terkecuali untuk Kota Yogyakarta, yang notabene merupakan kota pelajar, budaya dan pariwisata.

"Permasalahan sampah menjadi momok yang harus ditangani serius. Jika tidak, masalah sampah ini berakibat fatal," kata Santosa Suparman, koordinator wartawan unit DPRD DIY, Kamis (31/10/2019).

Hal itu disampaikan pada Sekretariat Daerah (Sekda) Kota Malang, Wasto beserta pejabat lainnya saat menerima kunjungan study yang difasilitasi Sekretariat DPRD DIY di Balai Kota Malang, Jawa Timur.

Kota Yogyakarta, kata Santosa, beberapa waktu lalu mengalami darurat sampah. Selain menimbulkan bau yang tidak sedap, berserakan sampah di beberapa bak penampungan membuat citra buruk untuk Yogyakarta.

"Warga sekitar PTA Piyungan hanya memblokir 5 hari, akibatnya luar biasa. Kalau tidak segera dilakukan penangan, masalah sampah ini bisa terulang kembali," katanya.

Tuntutan warga, menurutnya, lebih pada kompensasi. Meski belum mendapat apa yang diinginkan, warga bisa saja kembali memblogadir truk-truk pengangkut sampah ke tempat tersebut.

"Kalau tuntutan warga ini belum dipenuhi, tidak menutup kemungkinan mereka akan melakukan penutupan, ini mengkhawatirkan," tandasnya.

Untuk itu, tujuan ke Malang ini lebih pada menggali informasi perihal pengelolaan sampah. Apalagi, Kota Malang menjadi satu-satunya wilayah yang sukses dalam mengelola sampah.

Bahkan, wilayah itu menjadi rujukan dan percontohan secara nasional dalam penanganan sampah. Padahal, Kota Malang pernah berguru ke Bantul, DIY dalam menangani sampah.

"Kita berharap bisa tau detail tentang pengelolaan sampah di sini (Malang). Setelah kita ekspos dengan harapan bisa ditindaklanjuti oleh pemangku kepentingan, baik di Kabupaten Kota hingga Provinsi di DIY," katanya.

Wasto, Sekda Kota Malang menyampaikan secara gamblang. Bahkan, pria asli Ngawen, Gunungkidul ini mengakui ide bank sampah justru saat belajar dengan Bambang Suwerda yang merupakan warga Bantul.

"Jadi kami belajar di Bantul, tapi kami modifikasi untuk diterapkan di Malang. Penanganan sampah tidak kita ubah, tapi pengelolaamnya tersentral dalam satu koperasi Bank Sampah," katanya.

Ia mengaku cukup sulit dalam mengajak masyarakat untuk lebih sadar akan kelestarian lingkungan. Tak heran, pihaknya mengandeng ibu-ibu PKK dan RT RW untuk bersama-sama dalam mengelola sampah.

"Kesadaran warga ini kita dorong terus agar turut bertanggung jawab dalam menangani sampah. Masalah sampah ini dari hilir ke hulu harus dihadapi bersama, tak bisa hanya pemerintah saja, tapi juga peran masyarakat," katanya.

Sejak Bank Sampah diresmikan pada 17 Agustus 2011 silam, saat ini sudah ada sekitar 30 ribu nasabah dengan omset sekitar Rp 300 juta perbulan. Kesadaran warga untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih dan asri membuat Pemkot Malang lebih mudah dalam menerapkan program.

Dengan konsep Koperasi, Bank Sampah dibawah pengawasan Pemkot Malang ini mampu menekan luapan sampah. Hampir semua sampah, baik organik maupun non organik sudah dikelala dengan baik.

"Ada banyak jenis sampah, sekitar 70 jenis. Semua itu mulai dari sampah RT sudah dipilah-pilah, bahkan memberi manfaat secara ekonomi bagi masyarakat," katanya.

Bahkan, kata dia, sudah berulangkali PT PLN memberi bantuan melalui dana CSR untuk menunjang kinerja Bank Sambah. Salah satunya dengan memberikan bantuan untuk menggiling bahan dari plastik untuk didaur ulang menjasi bahan lain.

Jurnalis: Danang Prabowo
Editor: Gunadi

Share this Article :