Rekomendasi

Limbah Home Industri Makin Cemari Sungai, DLH Surakarta Harus Punya Laboratorium

Jumat, 29 November 2019 : 19.30
Published by Hariankota
SOLO – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta dipandang perlu untuk segera membuat laboratorium.

Pernyataan itu ditekankan oleh Ketua Komisi II DPRD Kota Surakarta, YF Sukasno, saat meninjau Sungai Jenes di Kampung Sanggungan RW 21 dan RW 13, Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, mengingat kondisi salah satu anak sungai di Kota Solo itu semakin rawan tercemar limbah home industri.

Karenanya, DPRD Kota Surakarta pun meminta agar DLH setempat segera mengajukan anggaran pembuatan laboratorium pada pembahasan APBD-P 2020 mendatang.

“Sudah saatnya DLH Surakarta punya laboratorium sendiri. Sangat berisiko kalau sampai tidak punya laboratorium. Terbaru, Sungai Jenes yang merupakan anak Sungai Bengawan Solo tercemar limbah batik. Ini contoh nyata akan pentingnya memiliki laboratorium,” jelasnya.

Ketua Komisi II DPRD Kota Surakarta itu pun menyayangkan belum adanya tindakan yang serius dari pihak terkait selama ini. “Kami berharap dengan punya laboratorium sendiri, DLH dapat mencegah pencemaran limbah di sungai,” kata dia.

Menanggapi hal itu, pihak DLH Kota Surakarta tidak menampik terkait adanya limbah home industri yang mencemari aliran anak sungai Bengawan Solo, seperti halnya temuan limbah di Sungai Jenes.

Namun, Kepala DLH Kota Surakarta, Sri Wardhani Purbawidjaja mengaku jika pihaknya sudah menindaklanjuti adanya temuan itu. Hasilnya ada beberapa persoalan sampai akhirnya limbah home industri itu masuk ke Kali Jenes.

“Benar, ada limbah dari home industri batik yang mencemari Sungai Jenes. Sepanjang hulu sungai di wilayah Kelurahan Semanggi memang terdapat home industri batik,” ungkapnya, saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (29/11/2019).

Upaya pencegahan masuknya limbah industri ke Sungai Jenes pun sudah dilalukan dengan membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Namun, diakui Kepala DLH Kota Surakarta jika upaya itu masih mengalami kendala di lapangan.

“Masalahnya, di wilayah tersebut susah mendapatkan lokasi untuk membuat IPAL Komunal. Kendala itu yang belum terpecahkan sampai sekarang,” jelasnya.

Jurnalis: Kacuk Legowo

Editor: Gunadi

Share this Article :