Rekomendasi

18 Murid Diminta Masturbasi, Guru BK di Malang Diringkus Polisi

Sabtu, 07 Desember 2019 : 14.28
Published by Hariankota
MALANG - Chusnul Huda (38), guru BK SMP negeri di Kepanjen, Kabupaten Malang hanya bisa tertunduk lesu saat diamankan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Malang akibat perbuatan cabul dengan cara meminta masturbasi terhadap belasan murid laki - lakinya.

Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung mengatakan terungkapnya peristiwa cabul ini berawal saat kepolisian mendapat laporan salah satu korban dan orang tuanya, yang kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan penyelidikan lebih lanjut.

"Pada 3 Desember 2019 kemarin ada laporan dari masyarakat adanya pencabulan di salah satu SMP negeri di Kepanjen dan dilakukan penyelidikan dengan pemeriksaan saksi dan TKP," ujar Yade Setiawan Ujung saat memimpin rilis Sabtu siang (7/12/2019).

Saat dilakukan penyelidikan pelaku pencabulan tersebut mengarah ke salah seorang guru Bimbingan Konseling (BK) di SMPN 4 Kepanjen.

"Pelaku mengarah ke CH ini lalu dilakukan penyelidikan. Namun yang bersangkutan tidak pulang di rumahnya di Kepanjen sejak tanggal 3 Desember," lanjutnya.

Namun jejak guru BK bejat ini terendus kepolisian dan berhasil mengamankan pelaku di daerah Turen pada Jumat sore 6 Desember 2019 sekitar pukul 16.00 WIB.

"Yang bersangkutan melakukan perbuatan cabulnya di ruangan tamu BK di luar jam sekolah. Diawali sebelumnya saat jam istirahat memanggil muridnya meminta untuk menemuinya usai pulang sekolah di ruang BK. Di sanalah perbuatan cabul dilakukan pelaku," jelas Yade Setiawan Ujung di Mapolres Malang.

Yade menjelaskan total ada 18 korban yang sudah terdata oleh pihaknya. Seluruh korban juga telah dimintai keterangan dan dilakukan visum.

"Ada seorang korban yang mengadu ke orang tuanya ada perbuatan tidak senonoh yang dilakukan salah satu guru, oleh orang tuanya berkordinasi dengan guru dan mengumpulkan murid - muridnya menanyai satu - satu, ternyata ada 18 korban. Kemudian dilaporkan ke pihak kepolisian," tuturnya

Pelaku yang telah memiliki seorang istri dan seorang anak ini mengaku ia mempunyai hasrat seksual ke sesama laki - laki sejak berusia 20 tahun. "Punya hasrat ke laki - laki sejak usia 20 tahun," jawabnya saat ditanya awak media.

Akibat perbuatannya pelaku terancam hukuman berlapis yakni Pasal 82 juncto 76 E Undang - Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak, serta pasal 82 ayat 2 dengan ancaman maksimal 20 tahun penjara.

"Oleh karena pelaku merupakan tenaga pendidik maka hukumannya ditambah sepertiga menjadi 20 tahun penjara maksimal," pungkas Yade.

Jurnalis: Miadaada
Editor: Kadek Arya Wiguna

Share this Article :