Rekomendasi

Mediasi Dead Lock, Unjuk Rasa Warga Terdampak Limbah PT RUM Bakal Berlanjut

Senin, 23 Desember 2019 : 19.13
Published by Hariankota
SUKOHARJO - Jalan panjang perjuangan warga terdampak bau limbah PT Rayon Utama Makmur (RUM) sepertinya bakal tak berujung. Mediasi yang berlangsung di ruang Bupati Sukoharjo ditengah riuhnya unjuk rasa didepan kantor Pemkab Sukoharjo, Senin (23/12/2019), mengalami jalan buntu.

Warga melalui 11 orang yang ditunjuk ikut mediasi bersama Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya, dan Forkopimda, meminta PT RUM memperbaiki instalasi pengolah limbahnya dengan sementara menghentikan operasional sampai tidak lagi mengeluarkan bau.

Namun permintaan warga tersebut tidak dapat dipenuhi. Pabrik serat rayon Sritex Grup yang berada di Desa Plesan, Kecamatan Nguter ini disebutkan masih terus berupaya menghilangkan bau limbah sesuai tuntutan warga, salah satunya memaksimalkan mesin pengolah limbah udara.

"Intinya dari warga terdampak meminta kepada Bapak Bupati mencabut izin lingkungan PT RUM karena sudah melewati batas tenggat waktu selama 18 bulan yang telah diberikan melalui Surat Keputusan (SK) bupati," kata Tomo, salah satu perwakilan warga yang ditunjuk ikut mediasi.

Kepada hariankota.com saat ditemui usai mediasi, Tomo mengatakan, Pemkab Sukoharjo menjanjikan akan membentuk tim investigasi menindaklanjuti laporan perihal bau limbah PT RUM. Keputusan berikutnya akan diambil menunggu hasil laporan dari tim investigasi tersebut.

"Kami menilai pembentukan tim investigasi itu sudah terlambat. Seharusnya kalau mau melakukan investigasi, semestinya sejak ditertibkannya SK Bupati, pemerintah memantau apakah paksaan kepada PT RUM melalui SK itu dilaksanakan atau tidak," ujar Tomo.

Dalam penilaian warga, sejak mulai beroperasi hingga selama ini, PT RUM telah gagal mengendalikan emisi limbahnya hingga berdampak mengganggu aktivitas warga yang tinggal disekitarnya.

Bahkan bau limbah juga telah menjangkau sebagian wilayah Kabupaten Wonogiri.

"Kemudian, juga terjadi kebocoran IPAL disamping pabrik, tepatnya disebelah utara masuk Dusun Ngrapah, Desa Gupit. Dari hal ini berarti PT RUM belum melaksanakan (SK) paksaan pemerintah. Maka secara Undang - Undang, seharunya izin lingkungan itu dicabut," tandasnya.

Dengan tidak adanya titik temu mediasi tanpa kehadiran perwakilan pihak PT RUM ini, warga terdampak bau limbah, menurut Tomo akan terus berjuang hingga berhasil mendapatkan haknya untuk kembali menghirup udara bersih seperti sebelum adanya pabrik PT RUM.

"Untuk langkah selanjutnya kami akan evaluasi dulu. Kami sebenarnya berharap dengan mediasi tadi, semua sudah selesai. Ya kami berharap Allah membukakan pintu hati Bapak Bupati, kemudian besuk tanda tangan pencabutan izin lingkungan PT RUM," imbuhnya.

Meski hasil mediasi tidak seperti yang diharapkan, unjuk rasa warga yang dikawal ketat ratusan aparat terdiri kepolisian, TNI, Dishub, dan Satpol PP Sukoharjo sejak pukul 09.00 WIB ini, akhirnya sekira pukul 17.00 WIB massa membubarkan diri.

Jurnalis: Sapto Nugroho

Editor: Gunadi

Share this Article :