Rekomendasi

Perang Tarif, Ratusan Ojol Go-Jek Segel Kantor Maxim

Senin, 16 Desember 2019 : 17.55
Published by Hariankota
SOLO - Ratusan pengemudi transportasi online menggelar aksi demo di kantor perwakilan ojek online Maxim yang terletak di Jalan Sangaji No 21 D Kelurahan Gajahan, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo.

Aksi demo itu digelar para pengemudi transportasi yang didirikan oleh Mendikbud Nadim Makarim, menyusul kebijakan tarif yang diterapkan transportasi online berjaket kuning ini dinilai merugikan mereka.

Dikutip hariankota.com dari Okezone, lengkap dengan menggunakan atribut lapangan, para Ojol yang berasal dari Gojek ini secara bergelombang mulai mendatangi kantor Maxim.

Tak hanya berorasi, merekapun memasang spanduk penyegelan di kantor perwakilan Maxim. Mediasi dibawah pengawalan ketat aparat Kepolisian ini pun dilakukan didalam kantor.

Beberapa perwakilan dari Ojol, menuntut agar pihak Maxim mulai menutut kantor mereka. Meski begitu, dengan alasan kemanusiaan, para Ojol ini memberikan batas toreransi pada Ojol dari Maxim untuk tetap beroperasi selama tiga hari.

"Bila dalam waktu tiga hari, pihak Maxim yang katanya punya PMA, tidak mau mengikuti aturan dari Permen no 12, maka kami meminta tak hanya kantornya saja yang tutup, tapi aplikasinya juga ditutup," tegas Penanggungjawab aksi, Bambang Wijanarko, Senin (16/12/2019).

Menurut Uye, hadirnya Maxim cukup berimbas terhadap pendapatan mereka. Dimana, sebelum kehadiran Maxim, mereka mampu mendapatkan order sebanyak 10 hingga 15 kali.

Namun, sejak kehadiran Maxim, order yang mereka dapat jauh menurun. Bisa dikatakan, bila Ojol Maxim sudah mendapatkan penumpang sebanyak 10 kali, mereka, ungkap Uye, baru mendapatkan satu kali order.

"Kalau tarif atas bawah sama. Untuk tarif bawah itu Rp 1850 per kilometer. Sedangkan tarif atasnya itu Rp 2300. Yang membedakan itu dijasa mininal perempat kilometernya.

Kalau kami sudah Rp 7000 - Rp 10 ribu, sedangkan mereka Rp 3000. Jelas kondisi ini membuat konsumen lari, dan lebih memilih Maxim," terangnya.

Dengan kondisi yang merugikan para Ojol berjaket hijau ini, tak ada kata lain selain menghentikan operasi Maxim bila pihak transportasi online itu tak bersedia menyamakan tarif yang sudah ditetapkan.

"Kita tidak ingin ada tindakan yang brutal seperti yang disampaikan teman kita model-model hukum rimba sudah kitavterapkan. Selama tiga hari driver Maxim mau beroperasi silahkan tapi kita tidak menjamin keamanan mereka," ujarnya.

Sementara itu Perwakilan Maxim Solo, Arif Yudha mengatakan seharusnya protes tarif ini tidak ditujukan pada pihak Maxim, namun disampaikan kepada institusi yang memiliki kewenangan menyangkut kesamaan tarif.

Bila institusi yang memiliki kewenangan untuk menentukan masalah tarif ini mengharuskan Maxim menyesuaikan tarif, maka pihak Maxim, ungkap Arif, bersedia mengikutinya.

"Seharusnya masalah tarif dan sebagainya itu dikomunikasikan kepada institusi berwenang seperti Dishub. Dan pihak Maxim bersedia mengikuti kebijakan dari institusi berwenang," papar Arif.

Menyangkut tuntutan untuk menutup kantor Maxim, ungkap Arif, pihaknya sepakat untuk menutup kantor sementara. Ini dilakukan agar kondisi kota Solo tetap aman dan kondusif. "Sambil kita menunggu surat rekomendasi dari Dishub, maka kantor ini kami tutup," tegasnya.

Sementara itu ketegangan sempat mewarnai proses evakuasi pengurus Maxim keluar dari dalam kantor. Teriakan "Tak kasih dua ribu" langsung menggema, begitu pengurus Maxim keluar dari dalam kantor.

Sumber: Okezone

Editor: Gunadi

Share this Article :